Sebenarnya saya juga tidak terlalu tertarik dengan isu politik, atau sekiranya hanya sebatas 'ingin tau' saja, tanpa mencari lebih dalam lagi. Jauh-jauh sebelumnya, saya tau jika hampir semua persoalan pada akhirnya bisa dikaitkan dengan politik. Hal ini muncul saat SMA, ketika mengobrol santai dengan teman-teman, dari pembahasan mengenai tokoh-tokoh pahlawan, sampai pembuatan alat tulis seperti kertas yang sehari-hari kita gunakan.
Kemudian, munculah kabar adanya film yang dikaitkan dengan politik beberapa waktu lalu. Salah satu rumah produksi audio visual, WatchdoC, merilis karya film dokumenter berjudul Sexy Killers. Film ini sebenarnya sudah dirilis jauh-jauh hari pada 5 April 2019 yang sekadar ditayangkan melalui nonton bareng, hingga H-3 sebelum pemilu sudah bisa dinikmati semua orang secara gratis melalui channel youtube Watchdoc Image. Sexy Killers ini sebenarnya film dokumenter ke-12 (terakhir) dalam Ekspedisi Indonesia Biru karya Dandhy Laksono dan Suparta ARZ juga teman-temannya, yang membutuhkan waktu satu tahun untuk membuatnya.
Kemudian ada tuduhan, jika film ini dapat mempengaruhi masyarakat menjadi golput (golongan putih) dalam pemilu. Hal ini mungkin karena sebagian besar ceritanya dikaitkan dengan beberapa tokoh elit Indonesia seperti dari kedua paslon capres dan cawapres bersama tim suksesnya masing-masing.
![]() |
| Dok. WatchdoC |
Secara keselurahan, film ini membahas tentang batu bara dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), terutama di Samarinda, Kalimantan Timur. Batu bara adalah salah satu sumber penghasil listrik melalui PLTU yang murah dibandingkan sumber lain. Cara mendapatkannya dengan cara menggali tanah dengan kedalaman tertentu dengan lahan yang tidak sedikit juga, sehingga setelah selesai atau sumber batu baranya habis, lahan tersebut menyisakan lubang besar. Namun, prosesnya sendiri sangat rumit dan menyebabkan banyak persoalan lingkungan.
![]() |
| Dok. WatchdoC |
![]() |
| Dok. WatchdoC |
![]() |
| Dok. WatchdoC |
![]() |
| Dok. CNN Indonesia |
Sebagian besar yang telah menonton akan bertanya, jadi sebenarnya siapa yang harus disalahkan atau yang bertanggung jawab? Perusahaan? Pemerintah? atau Rakyat? Tentunya susah untuk menjawab ini, dan mungkin tidak akan ada yang bisa menjawabnya. Karena dalam film dokumenter ini pun, saya tidak bisa menemukan solusinya. Kalau pun ada, solusi tersebut tidak bisa langsung dilakukan dengan cepat, dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mewujudkannya. Semua butuh proses.
Tetapi mari jangan saling menyalahkan, ambil yang baik, buang yang buruk, dan mulai perbaiki saja dari hal kecil, juga dari diri sendiri. Seperti mulai menghemat penggunaan listrik dan selalu menjaga alam lingkungan sekitar. Jika menangani masalah yang kecil saja sulit, bagaimana mau menangani permasalahan yang besar?
Di samping itu semua, film Sexy Killers ini sangat patut diapresiasi. Terlebih prosesnya yang cukup lama, juga merupakan hasil karya anak bangsa. Tidak semua media bisa berani mengungkapkan dan menciptakan karya seperti ini. Bagi yang belum menonton, silahkan segera menonton di channel youtube Watchdoc Image, yang sebenarnya kita sudah bisa tau maksud ceritanya tanpa harus menyelesaikannya. Film dokumenter ini juga mampu membuka mata, pikiran bahkan hati kita.





Jujur belum liat videonya teh, nunggu hype nya turun dulu. Bahkan rekan saya bilang "saya khawatir kalo nonnon videv itu jadi kritis,"
BalasHapusBaik.
HapusTapi kritis itu tidak selamanya buruk kok, kritis juga bisa buat kita lebih baik.
aku nonton ini di minggu pertama pemutaran, nobar di kampus. yang menarik itu momennya pas pilpres dan bahas orang2 di balik bisnis batu bara itu. sejak nonton itu, jadi nonton film dokumenter watchdoc yang lain.
BalasHapusMakin seru sih kalo nonton bareng, apalagi lanjut dengan diskusi bersama tokoh yang tau mengenai ilmu itu. Jadi kita bisa ambil dari berbagai sudut pandang.
HapusSaya juga masih proses ngikutin film dokumenternya yang lain.