Work from Home, Awalnya Impian

Sejujurnya dari dulu saya menginginkan bisa bekerja dari rumah. Membuat suasana sesuai keinginan sendiri. Berharap bisa menjadi lebih produktif dari sebelumnya. Tapi, setelah beberapa minggu ini mencoba langsung di tengah pandemik, rasanya ada yang kurang.

Namun, keinginan masih tetap ada, tapi kemudian berubah. Ada lagi, hilang lagi. Ada lagi, hilang lagi. Gitu aja terus. Mampus, kena loop thinking. Sorry.

Setiap hal pasti ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing sih. Tidak ada yang sempurna. Saya coba bahas beberapa dalam kasus kerja dari rumah ini.

Keuntungannya tadi sudah saya singgung di awal, bisa membuat suasana/situasi lingkungan kerja sesuai yang diinginkan sendiri, lebih fleksibel. Keuntungan lainnya mungkin bagi mereka yang tidak terlalu nyaman bertemu orang banyak, bisa mengurangi tekanan dari bos atau rekan kerja.

Kalau dari sisi lingkungannya, bekerja dari rumah sedikit bisa mengurangi polusi udara apabila awalnya terbiasa berkendara pribadi, dan tentu mengurangi kemacetan. Bahkan mungkin bisa meningkatkan indeks kebahagiaan karena stress akan macet. Begitupun dengan masalah perekonomian, bekerja dari rumah bisa mengurangi biaya pengeluaran, terutama untuk bahan bakar atau biaya transportasi, belum jika ada tambahan nongkrong-nongkrong. Selebihnya keuntungan bekerja dari rumah dapat menghemat waktu juga tenaga.

Lanjut dengan kelemahannya. Sering saya rasakan yaitu banyaknya gangguan/distraksi yang bisa diterima saat hanya berada di rumah, khususnya bagi mereka yang tinggal dengan keluarganya. Ya saya tau, lingkungan rumah memang tidak dibuat untuk bekerja, tapi diperuntukkan untuk beristirahat. Terlebih jika orang rumah lebih banyak menuntut harus melakukan apa, alhasil kita harus bisa mengatur waktu dengan sebaik-baiknya.

Kemudian, belum besarnya godaan untuk menunda pekerjaan di rumah. Entah godaan dari tempat tidur, hiburan, atau makanan. Niatnya menunda beberapa menit, tak sadar hingga jam, berlanjut terlupakan. Alhasil pekerjaan semakin menumpuk. Namun, ketika diri sudah siap bekerja, masalah lain kemudian timbul. Sarana prasarana yang kurang mendukung, terutama apabila pekerjaannya membutuhkan koneksi internet dan aliran listrik.

Mood pun sangat berpengaruh karena sebagian dari diri mungkin menganggap ini lingkungan rumah, bukan kantor, yang seringkali cenderung membawa ke arah malas karena besarnya fleksibilitas yang didapat. Kemudian, keresahan mungkin akan menimpa karena keadaan yang monoton, sehingga diperlukan untuk membuat suatu perubahan kecil di setiap waktunya, jika tidak ingin bosan yang bisa mengganggu pekerjaan.

Beberapa contoh kasus yang saya lihat di keadaan sekarang, terutama dalam dunia pendidikan, bekerja dari rumah masih cukup sulit untuk dilakukan. Sulit yang berarti bukan tidak bisa dilakukan, karena sudah banyak metode pembelajaran secara online sebelum wabah ada.

Salah satu contohnya dari kesiapan para tenaga pendidik yang belum matang. Mereka sudah terbiasa mengajar secara langsung. Akibatnya, seringkali saya mendengar keluhan para orangtua yang merasa terbebani dengan banyaknya tugas yang diberikan guru, begitupun dengan siswanya. Bukannya memberikan pembelajaran, tetapi kebanyakan hanya memberikan tugas yang belum tentu siswa tersebut mengerti untuk mengerjakannya.

Di zaman sekarang mungkin memang belum bisa berjalan dengan baik, apalagi di keadaan seperti sekarang yang memang dipaksakan. Mungkin beberapa tahun ke depan metode ini bisa berjalan lebih efektif, melihat beberapa pekerjaan saat ini sudah ada yang bisa dikerjakan secara remote. Contohnya para penulis, yang memiliki online shop, atau pekerjaan yang berhubungan dengan IT, tapi untuk pekerjaan di bidang pelayanan mungkin akan sulit untuk diterapkan.

Saya sempat membaca berita mengenai kebijakan bekerja dari rumah untuk PNS di akhir tahun lalu. Namun, kebijakan ini masih perlu dikaji ulang dan disiapkan dengan matang. Alih-alih disetujui, malah kenyataannya tidak berjalan sesuai ekspektasi. Seperti yang diketahui, seringkali menjadi PNS menimbulkan rasa pro dan kontra karena ada beberapa oknum yang tak bertanggungjawab menyalahgunakannya. Tapi banyak juga yang benar-benar bekerja demi negara. 

Menurut saya, kebijakan ini perlu ditahan dulu karena sebagian besar bekerja di bidang layanan. Tak hanya itu, mungkin masih banyak ditemukan pegawai yang kurang disiplin, contoh kecil dengan durasi istirahat makan siang saja seringkali melebihi waktu yang ditentukan.

Kebijakan semacam ini sebenarnya sudah banyak diterapkan di beberapa negara maju. Namun, pelaksanaannya masih memiliki kendala tersendiri. Dengan menerapkan sistem bekerja selama 4 hari dan 1 hari kerja dari rumah ataupun hanya 4 hari kerja saja. Jumlah jam kerjanya pun beragam, ada yang malah ditambah karena pengurangan hari, ada pula yang dipangkas. Hal ini dilakukan demi meningkatkan produktivitas para pegawainya, yang ujungnya kembali untuk keuntungan perusahaan itu sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kebahagiaan pegawainya, sehingga mampu menyeimbangkan waktu diluar pekerjaannya.

Namun, kembali lagi tergantung pada siapa diri kita. Ada yang senang bekerja bersama orang lain, ada juga yang tidak. Sehingga ukuran dan pengaruh tingkat produktivitas seseorang pun tidak bisa disama ratakan. Teman saya ada yang senang di rumah aja, tapi ada juga yang bahkan tidak betah di rumah. Semua tergantung pilihan masing-masing. Saya sendiri terkadang merasa lebih produktif di rumah, sebelum dipanggil sana sini karena urusan rumah juga 😂

Kenyataannya saya lebih sering menghabiskan waktu bekerja di rumah dibandingkan di tempat kerja. Terlebih saya belum bisa disiplin pada diri sendiri. Bahkan seringkali sebelum pandemi terjadi, tanpa sadar saya membawa pekerjaan ke rumah, karena merasa lebih konsentrasi apabila melakukannya di rumah. Berhubung ada beberapa jenis pekerjaan yang berdasarkan permintaan, tidak selalu rata jumlahnya.

Namun, metode bekerja dari rumah hanya saya alami beberapa minggu saja. Berhubung tempat tinggal yang cukup dekat dengan tempat kerja, ditambah jenis pekerjaannya ada yang meliputi pelayanan sehingga pekerjaan ditimpakan kepada saya. Bahkan seringkali saya terlalu fokus bekerja, lupa waktu, dan siklus tidur menjadi sangat berubah alias kurang tidur. Meskipun hal ini masih harus disyukuri, karena banyak yang kehilangan pekerjaannya dan tidak bisa pulang ke kampung halaman.

Tulisan ini saja sebenarnya sudah dibuat sejak awal Ramadhan, tapi baru bisa diselesaikan akhir Ramadhan pas malam takbiran, setelah sekitar sebulan di draft. Maafkan.

Tak hanya itu, selain puasa menahan lapar dan haus, saya pun puasa bermain media sosial. Sehingga tahun ini saya tidak merasa seperti bulan Ramadhan sama sekali, ditambah adanya pandemi yang membuat tarawih di rumah masing-masing.

Terus kesimpulan dari tulisan ini mengenai work from home gimana Han?



Saya sendiri masih memiliki keinginan untuk bisa bekerja dari rumah, tapi keputusan seringkali terus berubah dan berpikir untuk jangka panjangnya. Selain itu, bukannya saya tidak terlalu betah diam di rumah, karena saya sendiri lebih memiliki sifat introvert. Namun, hal yang baru saya sadari adalah ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Saya pernah membaca tulisan seseorang, tapi saya lupa di mana, yang jelas ia menyampaikan, bukan berarti kamu gagal dan tidak bisa melakukan suatu hal itu, tetapi mungkin kamu bukan berada di lingkungan yang tepat, lingkungan yang dapat mendukung mu melakukan hal yang kamu suka tersebut, sehingga kamu tidak merasa kamu berbakat atau baik di bidang tersebut.
-
Ada kemungkinan definisi work from home yang saya inginkan, yaitu bisa bekerja secara remote atau bisa juga memiliki usaha sendiri, seperti memiliki kendali. Jadi, work from home yang awalnya impian, masih menjadi impian*.

*syarat & ketentuan berlaku
  harus bisa pintar-pintar me-manage juga

Haduh agak rancu sebenarnya ini tulisan. Kelamaan ditinggal kali ya. Pikirannya udah ke Lebaran juga, sama ingin piknik:( Haha Sorry.

Mohon maaf lahir dan batin! 🙏🏻

8 komentar:

  1. Hahahaha gue juga sih sebenernya suka di rumah. tapi iya juga, syarat dan ketentuan berlaku. :))

    Anyway, selamat lebaran Han! Mohon maaf lahir dan batin!

    BalasHapus
    Balasan
    1. :))
      Hahaha iya selamat lebaran juga! Udah lewat banget ini :))))

      Hapus
  2. Hahaha .. teteep ya kak .. tetep ada rule syarat & ketentuan berlaku.
    Tapi memang benar sih kalau WFH ada banyak intervensi dari anggota keluarga, rasanya ngga nyaman juga.

    Tetap semangat, ya.

    BalasHapus
  3. Hemm... saya sendiri setelah puluhan tahun menjadi karyawan yang BP 7 (Berangkat Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan) memang bermimpi bisa bekerja dari rumah. Dan, masa pandemi Covid-19 tidak merubah keinginan tersebut.

    Memang betul sekali, banyak hambatan saat peralihan dari WFO ke WFH. Bukan hanya dalam segi tata cara, tetapi juga dari sisi psikologis sendiri. Ada rasa gamang dan ketidakpastian.

    Cuma, setelah dipelajari, bukan berarti tidak bisa dan tidak mungkin. Justru saya pikir hal ini sangat mungkin dilakukan. Bahkan oleh PNS sekalipun.

    Kesulitan yang dialami di awal sebenarnya tidak besar juga. Berkisar pada sistem, prosedur, dan masalah psikis saja. Sesuatu yang sebenarnya sangat wajar dalam hal perubahan kebiasaan dan budaya.

    Pastinya akan butuh lebih dari 3 bulan sebagai masa peralihan, tetapi WFH sangat jelas bisa dilakukan. Yang perlu diperhatikan adalah masa pembiasaan sehingga semua tidak kaget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya kembali pada pembiasaan ya, agar sistemnya bisa berjalan dengan baik.
      Istilah bisa karena terbiasa, yang awalnya karena dipaksa pun mendukung pendapat tersebut.

      Hapus
  4. Saya juga punya teman dekat yang kerjaannya bisa dimana aja gitu, kadang di coffeeshop, kadang dirumahnya sendiri. dengan modal buka laptop alias disebut freelance. pengen juga ngerasain kaya gitu.gak perlu berangkat kekantor dan bermacet-macetan kalo pagi. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak resiko yang harus diambil juga sih, karena freelance sistemnya tidak tetap tapi bagi seseorang yang tidak suka terikat hal ini tentu cocok. Meski bagi mereka yang bekerja di tempat yang tetap pernah berpikir menjadi freelance itu menyenangkan karena hanya melihat dari luarnya saja dan mungkin terpengaruh oleh rasa jenuhnya.

      Balik lagi semua ada pro dan kontra, apalagi di situasi pandemi seperti ini.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.