August 12, 2017

Aku, Gue, dan Saya #2

Hi guys!
Long time no write ha ha ha. Sorry.

Sebelumnya jujur nih cerita dulu, saya sibuk nulis juga sih di dunia nyata, nulis skripsi๐Ÿ˜œ maklum tingat akhir dan semoga bisa lanjut nulis tesis. But, alhamdulillah skripsi sudah selesai sejak lama dan beralih menjadi pengangguran sementara karena lagi sibuk cari kerja. Alhasil saya mengumpulkan niat kembali dalam menjalankan hobi saya yang sempat tertinggal. Selain itu, saya juga iseng buat usaha gambar karena lagi banyaknya yang butuh hadiah buat kerabat yang sidang atau wisuda, tapi buat tujuan lain juga ada. Tapi itu cuma iseng sih, iya iseng kalo ada yang berminat karena saya ga mempromosikan secara luas dan besar. Padahal niat awalnya cuma buat bikin hadiah dari pribadi buat kerabat aja.

Oke cukup ceritanya.

Nah akhir-akhir ini saya suka baca tulisan-tulisan, ya selain komik online. Kemudian datanglah satu buku menghampiri ku dan berguman "Hanna, bacalah!" bak malaikat. NO! Ga gitu deng ceritanya, buku ini hasil pinjeman dari perpustakaan sih, ibu saya yang baca dan bilang kalo tulisannya bagus.

Kemudian saya menghampiri, dan membaca dengan seksama dimulai dari judulnya Inspiring Words for Writes oleh Mohammad Fauzil Adhim, "Hmm.. menarik" gumamku. Tapi, menurut pepatah "Don't judge a book by it's cover" Yap, jangan menilai buku dari sampulnya saja. Ku buka halaman demi halaman dan tiba-tiba... pikiran ku terbuka dengan lebar dan penuh cahaya yang masuk. Mungkin karena saya baca di luar saat siang hari dengan matahari yang sangat terik.

Di salah satu halaman di bagian sharpen your words, change your world (hal 91). Disitu dijelaskan mengenai penggunaan kata engkau, anda, aku, dan saya dengan mengambil contoh untuk mengganti judul bukunya sendiri yang lain.


Kemudian ku bergumam kembali "Wah iya juga, apakah saya salah dalam mengemukakan pendapat/pandangan saya tentang hal tersebut sebelumnya? Hm, menarik.."

Buat yang belum baca yang sebelumnya bisa baca dulu di sini, iya di sini ๐Ÿ˜

Tapi saya kemudian berpikir kembali, antara pendapat beliau dengan saya sebenarnya tidak ada yang salah, keduanya benar. Yap kita bebas berpendapat guys atas dasar teori dan pengalaman yang dimiliki masing-masing. Sebelumnya saya juga menyatakan bahwa penggunaan kata ganti panggilan untuk diri sendiri itu tergantung dari masing-masing individu berdasarkan kenyamanan dalam penggunaan katanya.

Untuk di buku tersebut menyatakan bahwa penggunaan kata tersebut lebih ditujukan dalam sebuah karya tulis dan "sangat tergantung bagaimana merangkainya dengan kata-kata lain, meskipun secara etika menurut teori ada yang lebih sopan dibandingkan dengan kata ganti lainnya".

Kemudian di halaman selanjutnya beliau memberikan tips untuk bisa menggunakan kata yang tepat dalam sebuah karya tulis untuk merangkai kata-katanya. Ya icuuu..


So, setelah membaca tulisan tersebut selain saya mendapatkan alasan penggunaan kata ganti terhadap diri sendiri adalah kenyaman, yang kedua juga adalah tergantung rangkaian kata-kata yang diciptakan untuk membangun konsep yang sesuai tulisannya, seperti yang diungkapkan oleh salah satu pembaca saya di postingan sebelumnya ini ๐Ÿ˜Š


Oh iya tulisan ini tujuannya bukan review buku secara keseluruhan ya. Tapi mungkin itu nanti akan ditulis di postingan selanjutnya, karena bukunya sangat menginspirasi, terutama untuk yang ingin menjadi penulis. Tunggu saja ya, semoga masih ada para pembaca setia blog ini dan ada yang setia untuk menjadi teman hidup saya yang tidak seberapa ini ehe ehe, dan terima kasih juga buat kalian yang masih suka mampir meskipun belum ada postingan baru dalam waktu yang sangat lama. Sejujurnya masih ada beberapa cerita juga yang pengen saya sampaikan, terutama tentang kehidupan saya hehe. Tunggu tanggal mainnya saja.


But, thank you so much,

Hanna Ridha
Share:

March 12, 2017

1 Day, 3 Beaches, 4 Places

Yaaay! Finally i can go to somewhere, besides home and campus!

By the way, manfaat berlibur sangat besar bagi kehidupan kita terutama untuk kesehatan baik fisik maupun mental manusia, seperti mendorong manusia menjadi lebih kreatif, inovatif, meningkatkan daya juang, memberikan semangat bahkan motivasi. Selain itu, bisa meningkatkan kesehatan fisik karena terdorong untuk bergerak dan beraktivitas akibat perasaan senang atau excited.

Berkaitan dengan hal tersebut, berawal dari perasaan agak jenuh dengan aktivitas biasanya sebagai mahasiswa tingkat akhir *ehm muncul rencana untuk sejenak berlibur dengan teman. So, dengan adanya motivasi untuk segera menyelesaikan studi dan untuk meningkatkan semangat serta daya juang akhirnya kami merencanakan pergi ke suatu tempat untuk sementara, dan pilihan jatuh pada pantai! Yes beach beach beach!

Lokasi pantai yang dipilih adalah dengan jarak terdekat dan tentunya dengan biaya yang minim. So, kami memilih pantai Pangandaran! Disamping pilihan itupun memang ada salah satu teman yang sudah sering kesana berhubung jarak lokasi pantai dengan rumahnya cukup dekat, daaan pergilah kami bertujuh.

Perjalanan dimulai sore hari dari Jatinangor dengan menggunakan kendaraan pribadi dan sampai sekitar jam 10 malam tiba di rumah teman di Ciamis. Besoknya berencana untuk melanjutkan perjalanan dengan diawali melihat sunrise di Batu Hiu. Tapi... rencana itu gagal karena kesiangan, yas rencana pergi jam 2 pagi jadi jam 5 karena kami semua terlalu lelah (perjalanan kurang lebih harus menempuh sekitar 4 jam). Meskipun demikian kami sempat melihat sunrise di perjalanan menuju destinasi selanjutnya. So, Batu Hiu tidak jadi di kunjungi.

Oke, selanjutnya saya akan review semua tempat wisata yang dikunjungi dari sudut pandang seadanya dan rasa so tau.

Green Canyon


"Belum ke Pangandaran kalo belum ke Green Canyon" begitulah kutipan yang tertera di sana. Berbagai paket wisata yang bisa dipilih, untuk lebih lengkapnya bisa kunjungi disini. Dari banyaknya paket yang ada kami memilih paket perahu dengan biaya Rp 200.000/perahu (5 orang sekitar 45 menit, extra time + Rp 100.000) itu pun belum termasuk ke tempat inti Green Canyon. Namun, jika kalian memang ingin lebih menikmati suasana disana, lebih baik memilih paket dengan body rafting untuk mencapai ke Green Canyon. Berhubung kami tidak ada persiapan sama sekali dan berencana melanjutkan ke destinasi selanjutnya jadi tidak memilih body rafting.

Catatan:
Lebih hati-hati di tempat parkir, karena saat sampai akan segera diserbu orang-orang yang menawarkan paket di Green Canyon dengan harga yang cukup tinggi. Selain itu, saat diperjalanan menuju destinasi selanjutnya kami baru menyadari salah satu ban mobil kami tiba-tiba kempes dan berlubang cukup besar. Kami sempat "mengira" pelakunya orang-orang yang sebelumnya menawari berbagai paket bahkan mereka tidak segan memberikan sindiran, meskipun kenyataannya memang tidak tau kejadian aslinya. Yap! Kami sangat kecewa, tapi perjalanan harus terus berlajut. Yosh!


Pantai Madasari


Tempat ini merupakan tempat yang paling di rekomendasi kan, meskipun jaraknya lumayan jauh dari Pantai Pangandaran tapi worth it. Pasalnya masih belum banyak orang yang tau. Pemandangannya sendiri sedikit mirip dengan Tanah Lot di Bali, dimana adanya beberapa batu karang yang ada. Selain itu, kondisinya masih sangat bersih dan sepi serta dekat dengan kamar mandi dan tempat beribadah (masjid), sehingga kalian akan lebih puas untuk bersantai dan bermain di sini hingga malas untuk beranjak dari sana. Mungkin tempat ini pun masih dikelola oleh warga setempat dan belum ada campur tangan pemerintah. Dikatakan pula pantai ini merupakan surga Pangandaran yang tersembunyi. Sebenarnya Pantai Madasari sendiri tidak hanya satu, jadi ada beberapa pantai madasari lainnya, tapi kami tidak sempat menemukannya. Biaya masuk sendiri sebesar Rp 20.000/mobil.

Pantai Batu Karas
A post shared by Hanna Ridha Utami (@hannardh) on
Perjalanan hingga Batu Karas sendiri sebenarnya sama sekali tidak direncanakan. Awalnya kami ingin mencari Pantai Madasari yang lain namun pada akhirnya tiba di Batu Karas. Perjalanan yang dilewati pun harus hati-hati karena kondisi jalan yang baru dibuat dengan banyaknya tanjakan dan turunan yang cukup curam dengan batu-batu, dimana ternyata itu merupakan jalur evakuasi hingga Batu Karas sehingga biaya masuk jadi gratis hehe. Singkatnya itu lewat jalan alternatif dan berbahaya, alangkah baiknya lewat jalan biasa yaa.

Pantai Batu Karas sendiri lebih banyak digunakan untuk berselancar (surfing) karena merupakan pantai yang cukup tenang. Kondisinya pun tidak cukup ramai dan terdapat pula area bermain. Selain itu, cukup ramai dikunjungi wisatawan dari mancanegara, bahkan ada yang menyebutnya sebagai miniatur wisata Bali.

Pantai Pangandaran


Ini dia destinasi inti dalam perjalanan ini. Pantai ini memang tempat yang paling terkenal dan ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sehingga banyak pula tempat berbelanja atau bermain disana. Sampai disana saat sore hari, sehingga sempat melihat sunset. Namun, saat tiba disana kondisi sunset tidak terlalu bagus, entah memang bukan tempat yang cocok untuk melihatnya karena dari pantai Timur entah memang sedikit tertutup awan. Oh iya, sekali lagi kami tidak membayar biaya masuk karena salah satu teman memiliki orang yang ia kenal disana, cheers!

Tibalah malam hari, kami hendak bermalam di pinggir pantai dengan membangun tenda. Namun, hal itu gagal karena tidak lama kemudian hujan turun cukup deras dan akhirnya beristirahat di penginapan dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp 350.000 untuk 2 kamar (AC, Televisi, Kamar Mandi dalam). Keesokan harinya sebelum pulang kami berniat untuk melihat keindahan sunrise, karena belum merasa puas dengan pemandangan sunset yang diperoleh. Kondisi sunrise yang ada pun sangat indah dengan melihat dari pantai timur, meskipun pergi agak siang sekitar jam 5.30. Selain itu, kami menunggu para nelayan untuk menarik jaring yang telah disimpan sebelumnya. Namun, hasil yang didapat mengecewakan karena hanya sedikit ikan yang diperoleh dengan banyaknya sampah yang terambil.




Dari peristiwa tersebut, ada pesan yang ingin saya sampaikan. Kemana pun kalian pergi jangan pernah mengotori atau merusak tempat wisata tersebut atau dimana pun kalian berada. Karena selanjutnya hal ini akan terus berdampak buruk pada tempat tersebut.

Oh iya, kami tidak sempat pergi ke pasir putih di pantai Pangandaran (cagar alam) karena kondisi waktu yang ada juga. Memang cukup banyak yang gagal terlaksana, karena memang rencana perjalanan yang dadakan. Selain itu, kami lebih betah di kamar dengan kondisi yang sejuk dibandingkan keluar di siang hari dengan cuaca yang sangat panas. Jadi, alangkah lebih baiknya jangan nanggung buat liburan. Untuk selengkapnya, bisa coba lihat sedikit cuplikan videonya.



Nah, kami juga berencana akan pergi ke tempat lain yang lebih jauh. So, tunggu cerita kami selanjutnya yaa. Semoga terlaksana dan do'akan juga semoga masa studi kami beserta urusan lainnya cepat selesai haha. Bye!

***
Share:

February 25, 2017

Memilih Akhir Cerita Sendiri

Kebebasan adalah hak semua orang, namun untuk memperolehnya tentu tidak mudah. Nah bagi kalian yang mengaku pecinta film atau hanya sekedar mengisi kekosongan boleh nih dicoba menonton salah satu film yang ada kaitannya dengan kebebasan, yap untuk memilih akhir ceritanya sendiri dari sudut pandang masing-masing.

Nocturnal Animals merupakan film kedua dari Tom Ford yang juga berprofesi sebagai fashion designer, dimana telah dirilis pada tanggal 2 September 2016 di Venice Festival dan 9 Desember 2016 secara luas di AS. Jenis genre film ini adalah drama psikologis thriller. Film ini cocok buat kalian yang suka merenungkan film setelah menontonnya, bahkan ingin menontonnya lagi untuk meyakinkan dan melihat dari sudut pandang lain. But..

1.  Review ini penuh dengan spoiler. Jadi bagi yang masih belum nonton dan berniat nonton dulu silahkan jangan dibaca dulu.
2. Review ini bisa mempengaruhi sudut pandangmu sebelum menonton.

Tapi kalo kalian berniat membaca terlebih dahulu untuk mengumpulkan niat untuk menonton silahkan.

Oke. Here we go.

Secara garis besar Nocturnal Animals memiliki tiga narasi: cerita novel, masa lalu, dan masa sekarang yang disajikan acak namun rapi. Tanpa disadari sebenarnya hal itu saling berhubungan tidak langsung yang akan membentuk makna dibalik ceritanya. Sejujurnya saya pun menonton ini dua kali, because the film continued haunt me long after i watched.

Cerita utama dari film ini adalah Susan Morrow (Amy Adams) merupakan kurator seni namun tidak merasa bahagia dengan hidupnya, meskipun ia memiliki segalanya. Kemudian dia mendapatkan kiriman sebuah buku novel dari mantan suaminya Edward Sheffield (Jake Gyllenhaal) yang sudah 19 tahun tidak pernah berhubungan lagi. Susan mulai membacanya, dimana buku itu ditujukan untuk dirinya dengan judul "Nocturnal Animals" yang merupakan julukan lama dirinya dari Edward, karena perilakunya yang jarang tidur.
"My ex-husband used to call me a noctunal animal..."


Menariknya cerita novel tersebut disajikan dengan visual yang pas (layer cerita kedua). Novel tersebut menceritakan Tony Hastings diperankan juga oleh Jake Gyllenhaal, dimana istri dan anaknya dibunuh secara brutal oleh beberapa preman di Texas yang diketuai oleh Ray Marcus (Aaron Taylor-Johnson) dengan aktingnya yang creep dan akan membencinya. Kejadian ini terus berlangsung hingga Tony mencari para pelaku untuk balas dendam yang dibantu oleh Detektif setempat Bobby Andes (Michael Shannon).

Semakin dalam mengikuti cerita, Susan merasa dihantui oleh cerita tersebut. Selain itu, ia seakan kembali ke masa lalu (layer cerita ketiga) untuk mengingat awal pertemuannya dengan Edward dan menyakitinya, hingga melanjutkan hidupnya dengan Hutton Morrow (Armie Hammer).


Kembali ke novel, pada akhirnya Tony berhasil balas dendam dengan membunuh Ray karena persidangan menyimpulkan Ray tidak bersalah atas kurangnya bukti yang bisa ditemukan. Setelah itu, tanpa sengaja Tony melukai dirinya sendiri hingga menghilangkan nyawanya sendiri.

Kagum dengan novel buatannya, Susan ingin bertemu dengan Edward dan mencoba menghubunginya melalui email. Dibalaslah email tersebut dan Edward menawarkan agar Susan sendiri yang menentukan tempat dan waktu pertemuaanya. Di hari pertemuan, Susan sangat memperhatikan penampilannya (menghapus lipstik dan cincinnya) seakan ia kembali jatuh cinta kepada Edward dengan penampilan lugunya. Tapi, setelah beberapa jam ia menunggu, Edward tidak datang dan cerita berakhir. What does it all mean?

Dari sudut pandang saya sendiri, tentu akhir cerita dari film ini memberikan banyak makna. Baik bermakna pembalasan dendam, pembuktian diri, move on, atau cerita untuk mengakhiri hidup?. Sebenarnya jika diperhatikan secara seksama pada visual yang disajikan banyak petunjuk-petunjuk yang bisa menyimpulkan isi ceritanya, seperti halnya lukisan "Revenge" yang berarti balas dendam, like "Revenge Edward is completed".


Secara keseluruan isi novel Edward tersebut seakan menggambarkan kehidupan dirinya, dimana ia kehilangan seseorang yang dicintainya sekaligus anaknya yang diaborsi, seperti halnya kisah Tony yang kehilangan istri dan anaknya sekaligus. Tentu hal ini membuat Edward mengalami trauma. Selain itu, sifat Tony yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong keluarganya seakan menggambarkan sosok Edward yang lemah. Di akhir cerita seakan ia bunuh diri, pertanyaannya apakah di dunia nyata pun demikian?

Sekali lagi jawabannya tergantung dari sudut pandang masing-masing penonton. Pasalnya dia sempat membalas email Susan. Apakah ia bunuh diri setelah itu? atau Ia masih tidak bisa menghadapi Susan atas apa yang telah dilakukan kepadanya?. Tapi, bagi saya sisi positif dari akhir cerita novel Nocturnal Animals yang bisa diambil adalah, bahwa sisi lemah Edward yang dulu telah ditinggalkan dan menjadi sosok yang lebih baik. Namun, bisa saja bermakna bahwa Edward telah berhasil move on dari peristiwa yang telah dialaminya.

Sengaja atau tidak, Edward mengirimkan novel tersebut untuk membuat Susan sadar akan kesalahannya. Selain itu, seakan ingin membuktikan diri sendiri akan karyanya, dimana sebelumnya Susan tidak pernah menyukai dan percaya akan karya tulisnya. Namun, sakit hati yang dialami Edward nyatanya telah berhasil membuatnya bangkit dan menghasilkan sebuah karya yang bagus. Dari hal tersebut, film ini seakan memberitahu tentang kekuatan mengekpresikan isi hati melalui seni. Sebaliknya, Susan yang digambarkan tidak bahagia akan hidupnya, mungkin karena dia tidak percaya diri dan tidak bisa mengekpresikan dirinya menjadi seorang seniman.

Sejauh ini, Nocturnal Animals bisa dikatakan film yang unik dan berbeda dari kebanyakan film yang telah ada, dimana sangat membutuhkan banyak apresiasi. Selain banyaknya metafora yang disajikan, mungkin bagi sebagian orang yang tidak terlalu mengerti akan akhir ceritanya merasa terganggu karena dibiarkan menggantung dan dingin. Namun, menariknya film ini mendorong penonton untuk berpikir dan memilih akhir ceritanya sendiri.

So, bagaimana sudut pandang mu terhadap film ini? Bagaimana rasanya jika ini terjadi kepada mu?


NB:
Film ini telah masuk ke beberapa nominasi di ajang penghargaan perfilman terbesar, dan berhasil mendapatkan beberapa penghargaan, seperti di 74th Golden Globe Awards 2017, Central Ohio Film Critics Association 2017, BloodGuts UK Horror Awards 2016, Hollywood Film Awards 2016, Venice Film Festival 2016, dll.
Share:

February 11, 2017

Slow But Sure

Siapa yang tidak mau pekerjaan, harapan, atau bahkan masalahnya dapat segera selesai ataupun sampai di akhir perjalanan. Tentu semuanya mau. Namun, dibalik itu semua pasti banyak rintangan yang perlu dilewati. Disisi lain adapula yang sebaiknya hal tersebut tidak dilakukan dengan tergesa-gesa dengan motivasi ingin segera selesai, karena bisa saja menghasilkan hal yang tidak memuaskan.

Paling baik sebenarnya lakukan dengan sebaik-baiknya, semampunya, dan dapat membuahkan hasil yang memuaskan. Sepanjang jalan yang ditempuh tentu tidak cepat, namun bisa saja sangat lama, perjalanan tersebut disebut proses.

Proses merupakan hal terpenting dalam mencapai suatu tujuan. Hasil akhir akan ditentukan dari seberapa baik proses itu dilakukan. Selain itu, semua hal hampir tidak bisa terjadi dengan instan, pasti akan melewati yang namanya suatu proses tersebut.

Memang tidak salah apabila bisa menyelesaikan suatu pekerjaan dengan cepat bahkan sebelum waktu yang ditentukan. Namun, melihat beragamnya karakteristik manusia, kemampuan, bahkan lingkungan, tentu hal ini menjadi suatu pertimbangan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Selain itu, terkadang beberapa manusia akan merasa iri dengan yang lainnya yang telah berada di akhir perjalanan. Di dunia ini tentunya tidak semua orang akan menghadapinya dengan perilaku yang sama, seperti ada saja yang tetap cuek dan malas, bersikap tenang dan berusaha sekeras mungkin, dan membuat hal tersebut untuk dijadikan sebagai suatu motivasi. Tentunya pengambilan sikap ini tidak selalu mudah untuk diputuskan bagi semua orang.

Slow but Sure, pelan tapi pasti, mungkin salah satu pilihan yang tepat untuk menghadapinya. Bersikap pelan dan tenang namun yakin bisa menyelesaikannya dengan usaha yang keras.

 True progress is slow but sure.
-Swani Vivekananda-

So, buat temen-temen yang sedang menghadapi masa sulit atau perjalanan akhir dalam hal apapun, buat pilihan sikap yang paling cocok dengan karakternya masing-masing. Tidak terlalu pelan atau tidak terlalu buru-buru. Asalkan selalu disertai usaha dan do'a.
 
Success is how to begin and knowing to finish.
Success is an achievement. While, struggling is a must.
Sucess will never come to you if you won’t go to it.

Best Wishes,

Hanna Ridha Utami

Share:

November 13, 2016

Cowspiracy. Konspirasi Usaha Peternakan?

Tentu semua orang menginginkan kehidupan yang sehat. Bahkan mungkin ada beberapa orang yang menjadi relawan (volunteer) dalam menyelamatkan dunia. Nah orang-orang ini pula yang mungkin tau mengenai penyebab global warming atau perubahan iklim selama ini yang terjadi di dunia.

Tapi benarkan telah mengetahui semua seluk beluk penyebabnya?

Dalam kasus tersebut kamu bisa mengetahuinya dengan menonton film dokumenter Cowspiracy - The Sustainability Secret (2014).

Film ini mengungkap penyebab utama permasalahan lingkungan yang menyebabkan pemanasan global dengan disertai data-data yang memang benar adanya (fakta), yaitu dari bidang peternakan serta besarnya jumlah penangkapan ikan. Perolehan informasi dilakukan melalui proses wawancara dengan organisasi-organisasi terkait, serta orang-orang yang memiliki usaha di bidang tersebut. Tapi kenyataannya beberapa organisasi terkait tidak bisa menjawab kasus tersebut, karena mungkin dipengaruhi pula oleh kepentingan bisnis dan politik.

Tentu hal ini pula yang membuat saya tertarik untuk menonton film ini, karena saat ini pula saya sedang mengemban ilmu peternakan. Awalnya saya memang mengetahui pengaruh peternakan terhadap global warming, karena memang saya pelajari juga di perkuliahan. Tapi saya tidak menyangka bahwa itu merupakan penyebab utama dan berkontribusi cukup besar, dimana dalam film tersebut dijelaskan 51% usaha peternakan mempengaruhi pemanasan global dari efek rumah kaca yang dihasilkan. Sedangkan yang umumnya telah kita ketahui penyebab pemanasan global lain adalah gas CO2 dari transportasi, industri pabrik, itu hanya menyumbang sebesar 18% efek rumah kaca yang dihasilkan. Hal ini karena hewan ternak, terutama sapi menghasilkan gas metana akibat dari hasil proses pencernaannya.

Tidak hanya itu, disini dijelaskan pula pengaruh lainnya yaitu dampak pemberian pakan ternak mempengaruhi jumlah penggunaan air yang diperlukan serta menurunnya hutan hujan di dunia, termasuk Indonesia. Menurunnya hutan hujan tersebut karena lahan yang awalnya hutan akan diubah menjadi lahan penggembalaan ternak ataupun lahan penanaman untuk pakan ternak.

Akhir dari film tersebut usaha dalam menyelamatkan dunia yang akan menghasilkan pengaruh yang besar adalah dengan tidak memakan hasil produk peternakan, seperti daging, telur, susu, dan olahannya, dengan kata lain menjadi seorang vegetarian. Dengan catatan untuk menghasilkan pengaruh yang besar, perlu seluruh orang di dunia ini melakukannya. Tentu hal ini susah untuk dilakukan, mengutip dari Cowspiracy, "I could never go vegan" - said almost every vegan (before going vegan).

"You can't be an enviromentalist and eat animal products, period. Kid yourself if you want. If you want to feed your addiction, so be it, but don't call yourself an environmentalist" -Howard Lyman

Hmm. Semakin menarik!

Menurut saya, dalam film ini memang tidak ada yang salah dimana mengajak kita untuk selalu berusaha menyelamatkan dunia. Yap dunia kita semua. Hal ini memang berat untuk dibahas.

Namun, pada hakikatnya gas metana ini tidak sepenuhnya dihasilkan oleh hewan ternak saja. Selain itu para ahli peternakan pun selalu berusaha untuk meminimalisir sampah yang dihasilkan oleh usaha peternakan, dimana usaha ini bahkan merupakan usaha zero waste karena semua yang dihasilkan oleh usaha tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Salah satunya, kotoran ternak mengandung zat organik yang dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman, selain itu dapat dijadikan sebagai energi untuk memasak bagi manusia. Selain itu baik limbah darah, jeroan, bulu, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan catatan harus diolah terlebih dahulu dan diberikan dalam jumlah yang sedikit dan terkontrol.

Berdasarkan hal-hal tersebut tentu para ahli akan selalu terus berusaha dalam menangani kasus-kasus seperti ini.

Kemudian untuk masalah pakan, para ahli pun telah banyak melakukan penelitian dan percobaan mengenai pemanfaatan limbah menjadi pakan ternak. Tujuan utamanya adalah pakan ternak tidak bersaing dengan makanan manusia.

Selain itu, jangan juga menyalahkan ternak ataupun peternaknya sendiri. Mari bercermin, bagaimana perilaku manusia, terutama dalam ketamakan. Hal ini pula yang mendorong usaha peternakan untuk menghasilkan produk yang harus dapat memenuhi permintaan konsumen di dunia. Apalagi jika bermain logika, mungkin hewan ternak telah ada sebelum alat transportasi dan sejenisnya ada, dimana dunia masih baik-baik saja.

Jika saya boleh berpendapat, semua ini ada tidak lain untuk menciptakan keselarasan dan harmoni alam. Selain itu, tidak ada salahnya juga menjadi vegetarian. Semuanya kembali ke diri masing-masing.

Berusaha di bidang peternakan memang memiliki beban yang besar.
"The ultimate goal of farming is not the growing of crops, but the cultivation and perfection of human beings". -Masanobu Fukuoka

*Mohon maaf apabila saya salah berucap, karena saya pun masih dalam proses pembelajaran.
Semoga semuanya bisa mengambil hal positif dan dapat mengambil jalan yang terbaik. Cheers!
Share: