February 24, 2018

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat


Kebanyakan orang setelah mendengar kalimat di atas akan spontan berkomentar negatif. Hal ini dikarenakan dari dulu kita sudah sering diberi pembelajaran untuk selalu bisa peduli. But for me, tidak semua hal harus kita pedulikan.

Pikiran ini muncul setelah saya membaca buku karya Mark Manson (seorang blogger yang tinggal di New York) dengan judul "The Subtle Art Of Not Giving A F*ck"  (terbit tahun 2016) dan baru-baru ini (Feb 2018) telah dialih bahasakan ke bahasa Indonesia dengan judul "Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat".  Menariknya lagi, buku ini merupakan buku pertamanya. Oh iya, sebenarnya saya telah mengetahui buku tersebut sejak lama sebelum versi Indonesianya ada. Namun, belum sempat menyelesaikannya dalam versi Inggris, terlebih dalam bentuk digital. Sehingga saya merasa excited  ketika sudah ada versi Indonesia dan dapat memilikinya dalam bentuk fisik.


Buku ini merupakan jenis buku pengembangan diri (self improvement) dan terlaris versi New York Times dan Globe and Mail. Terlihat dari judulnya, buku ini ditujukan untuk dewasa (17+), karena gaya bahasa yang digunakan disajikan secara agak kasar dan tidak selayaknya untuk dibaca anak-anak. Bahasanya pun cukup berat bagi mereka, tetapi cukup mudah dipahami bagi kalangan 17 tahun ke atas, karena diiringi dengan beberapa fakta mengejutkan berbentuk sebuah kisah beberapa tokoh dan kisah pengalaman sang penulis, terkait materi yang akan dibahas.

Mark sendiri telah memberikan informasi sedikit tentang inti bukunya kepada para pembaca di dalamnya. Dia menyatakan bahwa, "Buku ini tidak berbicara bagaimana cara meringankan masalah atau rasa sakit. Bukan juga panduan untuk mencapai sesuatu. Namun, sebaliknya buku ini akan mengubah rasa sakit menjadi kekuatan, dan mengubah masalah menjadi masalah yang lebih baik. Khususnya, buku ini akan mengajari untuk peduli lebih sedikit". Tentunya akan memengaruhi pandangan tentang kehidupan kita ke depannya, tetapi semuanya kembali pada dirinya masing-masing.

Berbicara mengenai sikap bodo amat, disini bukan berarti kita tidak peduli atau masa bodoh akan sesuatu, tetapi kita hanya perlu memilih dan memilah mana saja bagian-bagian yang layak untuk kita pedulikan. Pasalnya, secara mendasar kita sebagai makhluk hidup secara biologis akan selalu memedulikan sesuatu, dan tidak ada yang namanya masa bodoh, itulah fakta kehidupan. Pertanyaan selanjutnya yang perlu dipertimbangkan adalah, Apa yang kita pedulikan? Hal apa yang kita pilih? dan Bagaimana cara kita bersikap masa bodoh pada hal yang tidak ada maknanya?  Berdasarkan hal itu,  Mark membagikan tiga seni dalam bersikap bodo amat, diantaranya;

1.  Masa Bodoh Berarti Nyaman Saat Menjadi Berbeda
Masa bodoh yang ia sebutkan bukan berarti bersikap acuh tak acuh, dimana lebih cocok ditujukan bagi orang-orang yang takut menerima dirinya sendiri. Mereka yang lebih sering terganggu atau peduli dengan perkataan orang lain terhadap dirinya dalam berbagai hal, sehingga akan berusaha sebaik mungkin menampilkan sosok yang spesial atau istimewa. Sikap tersebut menampilkan sosok yang takut dan mengakibatkan tidak bisa memilih pilihan yang berarti. Pencapaian dari seni ini, sebenarnya kita dituntut untuk sebisa mungkin dapat menerima sosok atau kehidupan kita sendiri apa adanya, dengan kata lain nyaman menjadi berbeda, meskipun dipandang sebagai orang buangan namun dapat menemukan hal sulit yang bisa dihadapi dan dinikmati, bukan untuk dihindari.

2.  Harus Peduli pada Sesuatu yang Jauh Lebih Penting
Secara tidak sadar mungkin kita memberikan perhatian berlebih terhadap hal sepele dan membuat kita gusar, seperti your ex-boyfriend's new Facebook picture, or how quickly the batteries die in the TV remote. Hal tersebut telah mencuri perhatian kita, sehingga kita tidak punya sesuatu yang layak dikerjakan dalam hidup, dan itulah masalah sesungguhnya, not your ex-boyfriend or the TV remote. Sehingga, cara yang paling tepat untuk memanfaatkan waktu dan tenaga kita adalah dengan menemukan/memilih sesuatu yang penting dan bermakna untuk hidup kita.

3.  Tanpa Sadar Kita Selalu Memilih Suatu Hal untuk Diperhatikan 
Kita dilahirkan untuk selalu peduli atau risau terhadap banyak hal, baik saat kecil, remaja hingga dewasa. Namun, sejak beranjak dewasa kita mulai memperhatikan sebagian hal yang hanya berdampak kecil dalam hidup kita, didukung berdasarkan banyak pengalaman yang telah terlewati. Seperti hal penolakan atau komentar orang, kini sudah tidak diperhitungkan lagi atau menjadi lebih selektif. Begitupun dengan memasuki usia paruh baya, meskipun energi semakin berkurang namun kita sudah yakin dengan identitas sendiri dan mulai menjalani hidup apa adanya, serta menerimanya meskipun baik atau buruk.

Kunci untuk kehidupan yang baik, bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting. -Mark Manson

Bagian-bagian dari buku ini seakan mengubah pikiran kita sedikit terbalik dengan pandangan kehidupan biasanya yang telah kita terima sejak dulu. Beberapa diantaranya, Mark memberikan gambaran bahwa terkadang kebahagiaan itu adalah masalah, menyadarkan bahwa anda tidak istimewa, selalu memilih dan keliru tentang semua hal, menyatakan kegagalan adalah jalan untuk maju, dan pentingnya berkata tidak, serta memberikan pemahaman tentang kematian. Selain itu, ada salah satu bagian dimana ia memberikan suatu pandangan mengenai suatu hubungan (relationship) dengan pasangan agar berjalan lebih baik dan bertahan dalam jangka panjang.

Buku ini tidak seperti kebanyakan buku motivasi lainnya, yang disajikan dengan kata-kata positif penuh semangat dan membangun. Namun buku ini disajikan secara blak-blakan tentang kerasnya hidup dan saya sarankan siap-siap tertampar olehnya. Tamparan yang menyegarkan yang dapat mengembalikan kesadaran kita untuk melanjutkan hidup yang apa adanya.

Ada yang menarik dalam buku ini menurut saya, Mark memaparkan beberapa nilai umum yang sangat buruk bagi banyak orang, diantaranya; (1) Kenikmatan, (2) Kesuksesan Material, (3) Selalu Benar, dan (4) Tetap Positif. Yap, ternyata sikap selalu berusaha positif bisa menjadi buruk bagi kita, karena justru merupakan suatu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan mengekalkan masalah. Padahal, sebenarnya masalah akan membuat hidup kita lebih bermakna dan penting.

Buku ini cocok bagi yang menyukai buku pengembangan diri dengan penyampaian gaya bahasa berbeda tanpa ada kalimat manis, tetapi langsung masuk pada intinya. Boleh juga bagi beberapa orang yang ingin segera sadar bahwa hidup ini memang menyakitkan, atau yang baru saja jatuh di jurang penderitaan dan dilanda ketakutan yang sedang berusaha untuk bangkit. Tapi, menurut saya ini cocok bagi semua kalangan, seperti halnya bagi beberapa orang yang hidupnya sudah terbilang aman, apabila membaca buku ini mungkin akan menjadi lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

Adapun beberapa kelemahan buku ini dalam bentuk fisik versi Indonesia, yaitu ada beberapa kata yang salah (typo), sehingga membuat sedikit terganggu ketika membaca. Tetapi masih dapat diterima karena kesalahan katanya hanya 1-2 huruf saja yang tertukar atau salah. Selain itu, bagian halaman daftar isi pertama di buku saya agak sedikit lepas. But so far, so good.  Namun, jika ingin benar-benar nyaman, lebih baik baca versi Inggrisnya dalam bentuk digital atau fisik yang bisa ditemukan di toko buku impor.

Sebenarnya, masih sangat banyak bahasan yang menarik dalam buku ini. Jadi, jika kalian tertarik dan penasaran, bolehlah sempatkan membaca buku ini. Atau mungkin kalian punya rekomendasi buku self improvement  lain?  Boleh juga loh di share disini.
Share:

February 10, 2018

Senyuman.

Waktu istirahat telah tiba, keadaan kelas pun menjadi ramai dengan keasikan teman-teman yang sibuk sendiri. Entah dengan obrolan gosipnya, pergi ke kantin, main gadget bersama, pacaran, tingkah laku jahil, mengerjakan tugas atau sekedar membaca buku, bahkan ada yang sempat-sempatnya tidur di kelas.

Aku sendiri memanfaatkan waktu istirahat tersebut dengan berkumpul bersama teman-teman, dan membahas tentang kelulusan sekolah. Terkadang aku juga melihat keadaan kelas.

Tak sengaja mataku kemudian tertuju pada seseorang yang sebelumnya telah memperhatikan lama ke arah kami. Ia seorang yang jarang sekali berbicara. Bukan, bukan karena dia seorang yang pendiam. Bahkan temannya pun terbilang banyak. Hanya saja sikapnya memang seperti itu sejak dulu ku mengenalnya. Tak lama senyumnya terlihat menyapa diriku, ku balas juga dengan senyuman dan kembali masuk dalam pembicaraan bersama teman-teman. Bel masuk pun kembali berbunyi, kami mengikuti jam pelajaran yang tersisa.


Pulang sekolah merupakan hal yang paling menggembirakan bagi kami, apalagi jika tidak ada tugas tambahan. Aku terbiasa pulang bersama dengan teman-teman, dan diakhiri perpisahan arah jalan pulang yang tidak sama lagi. Hingga tersisa hanya tinggal dua orang saja, termasuk aku di dalamnya.

Saat di perjalanan, teman ku bertemu dengan kenalannya, sehingga aku bersabar menunggunya sampai urusannya selesai. Tak lama kemudian, ada seseorang menghampiri dan membawakan setangkai bunga mawar untuk ku.

Lalu dia berkata, "ini untuk mu".
"Dari siapa?"  tanyaku.
"Ada seseorang yang menitipkannya untuk mu, dari laki-laki disana"  sambil menunjukkan arahnya.

Spontan aku melihat ke arah yang ditunjuknya. Namun tidak sempat untuk melihatnya jelas, karena ia terlanjur berlari dengan sangat cepat menghindari.

"Terima kasih" kataku kepada seorang yang mengantarkan bunga tersebut. Dibalasnya dengan anggukan kepala dan kembali ke tempat semula.

Aku sangat yakin bahwa orang yang memberikan bunga tersebut adalah seseorang yang tadi memberikan senyuman di kelas. Tapi bisa saja aku hanya percaya diri dan merasa istimewa. Bisa saja kan orangnya bukan dia?

Sesaat kemudian aku tidak menyadari bahwa diriku ternyata hanya sedang berada di tempat tidur semata. Tapi perasaan ini terasa benar-benar nyata, bahkan degup dada yang kencang masih terasa saat mataku terbuka.

"Hanya mimpi" gumamku.

Dalam hati ku berharap, semoga ada pertemuan selanjutnya, baik di dunia mimpi atau di dunia nyata.
Share:

January 22, 2018

Kill for a Good Grade?

Pas masih kuliah, banyak banget tuh pasti yang memotivasi satu sama lain buat ga terlalu kecewa sama nilai yang didapat, dengan catatan udah berusaha sebisanya. Ya meskipun tetep akan merasa 'galau' sebentar. Kita tau, ga semua metode pengajaran dosen sama atau sesuai yang kita harapkan, terutama dari segi pemberian nilai. Tapi, bagaimana jika ada seseorang yang berani melakukan apapun hanya untuk mendapatkan nilai sempurna?


Kejadian tersebut terjadi dalam kisah film Dismissed yang merupakan karya debutnya Benjamin Arfmann sebagai sutradara dengan penulis naskah Brian McAuley. Film ini dirilis pada tanggal 21 November 2017 lalu dengan mengangkat genre horror, thriller. Namun, film ini hanya ditampilkan di beberapa bioskop saja, dan selebihnya hanya ditayangkan di media online.


Awal cerita, Mr. David Butler (Kent Osborne - juga penulis cerita Spongebob tahun 2002-2005) sedang mengajar kelas Bahasa Inggris dengan membahas karya dari William Shakespeare. Namun sebagian besar muridnya tidak memperhatikan. Dia merasa lelah, ditambah memiliki satu anak balita yang sakit, sehingga ia berniat untuk melamar menjadi dosen dengan harapan mendapatkan penghasilan yang lebih besar.

Tiba-tiba seorang murid pindahan datang, bernama Lucas Ward (Dylan Sprouse), ia sangat bersemangat dalam mengikuti semua kegiatan belajar mengajar. David dibuat takjub olehnya, ditambah Lucas mengatakan bahwa Bahasa Inggris merupakan favoritnya, selain itu juga ahli dalam permainan catur yang dibina David. Hal ini membuat David menginginkan menjadi mentornya, disamping Lucas tidak terlalu mendapatkan perhatian dengan sudah tidak memiliki ibu, serta ayahnya yang sibuk bekerja sebagai pengacara pembela pidana. Namun, keadaan tersebut berubah dengan sangat cepat, saat David memberikan nilai B+ pada tugas makalah Lucas tentang Othello setebal disertasi, dengan mengambil subtema 'Honest as I am: a Defense of Iago'.


Lucas sangat terlihat kecewa, David mencoba menjelaskan bahwa presepsinya tentang Iago salah dan nilai tersebut sudah cukup baik untuk dirinya. Kegigihan Lucas tidak berhenti, ia masih menginginkan nilai sempurna untuk menjaga transkrip nilainya yang akan membawanya ke Harvard.  Bahkan ia meragukan kredibiltas David dengan bertanya darimana ia mendapatkan gelarnya, sehingga memutuskan bahwa interprestasinya tidak sebanding dengan pendidikan David (kuliah di Iowa State).

Disini sudah terlihat bahwa Lucas merupakan sosok yang segala sesuatu keinginannya harus terpenuhi. Menurut saya, tidak etis menanyakan latar belakang seorang guru. Selain itu, memang salah jika membenarkan yang salah, seperti maraknya berita hoax di luar sana. Pasalnya dari cerita Othello sendiri, Iago lah yang merupakan sosok jahat yang menipu Othello. Namun, disini Lucas menyatakan bahwa Iago merupakan sosok pahlawan karena berhasil jujur kepada dirinya sendiri, sedangkan Othello seorang penipu. Seolah ia memandang sesuatu secara terbalik, dan ternyata hal ini pun sependapat dengan guru Sejarahnya Mr. Paul Garett (Robert Longstreet) di sekolah sebelumnya Milton Highschool, dimana Lucas mengerjakan tugas tentang Nazi dengan subtema 'How Perfection is an Admirable Goal'  (Kesempurnaan Tujuan yang Besar) dengan metode Adolf Hitler yang sedikit salah.

Akibat kejadian tersebut, David sudah merasakan adanya sesuatu yang tidak beres, ditambah semakin hari hidupnya semakin sial. Sebelumnya pun ia sudah merasakan keanehan saat salah satu pemain klub caturnya Alex (Matthew J. Evans) mendadak kecelakaan di kelas kimia Mr. Greg Sheldon (Randall Park). Hal ini terjadi tentu akibat ulah Lucas yang sengaja mencelakai Alex, karena tidak terima ditempatkan di posisi kedua dalam pertandingan catur, meski berhasil mengalahkan Alex.

Dok. The Orchard Films - Giphy

Diawali dari kesialan lamaran menjadi dosen ditolak mentah-mentah, karena ada yang mengubah lamarannya. Ia kemudian menyelidiki dengan menduga Lucas-lah pelakunya, dengan membandingkan ungkapan kata yang ada di lamarannya dengan di tugas makalah Lucas.

Dok. The Orchard Films - Giphy
"Have you been messing with me?" said David.
Dilanjutkan dengan menuduh Lucas mengubah lamarannya, karena saat jam istirahat ia meninggalkan laptopnya di ruang kelas. Cerdiknya Lucas, ia dengan mudah menjawab bahwa itu adalah salahnya sendiri, mengapa meninggalkan laptopnya di tempat umum dan terbuka sehingga bisa siapa saja yang dapat mengaksesnya. Semakin kesal David dibuatnya, ia langsung ke intinya "Masalahnya kamu hanya menginginkan nilai A. Bagaimana jika saya tidak akan pernah memberikannya?". Lucas menjawab penuh perumpamaan (metafora), "Aku selalu menemukan buku yang lebih menarik, saat tokohnya siap untuk kehilangan segalanya."

Pas nonton, langsung terlintas dipikiran,
"Eh gila ini murid SMA berani amat ya. Lah bocah ngapa yak, bocah ngapa yak?  ( . . . )"

Ya seperti perumpamaan Lucas, ia terus menerus menekan David untuk kepentingannya sendiri mendapatkan nilai bagus dengan cara memanipulasi orang-orang sekitarnya, seperti teman dekatnya Becca (Rae Gray). David pun sempat bertanya kepada Jane (Leslie Thurston) selaku kepala sekolah, apakah ada keluhan dari guru lain mengenai Lucas. Tapi nyatanya tidak, karena ia termasuk siswa cerdas dan selalu mendapatkan nilai sempurna, sehingga meski ia menceritakan akan ancaman Lucas tetap tidak ada yang percaya dan mengira bahwa David-lah yang sedang tidak fokus atau tidak dapat menghadapi murid. Namun, David tetap yakin akan dugaannya dan menemukan celah saat ia berkunjung ke rumah Lucas untuk membicarakannya dengan Mr. Ward (Chris Bauer). Mr. Ward kesal dengan tuduhan yang ditujukan terhadap Lucas dan tanpa sadar salah menyebut nama David dengan memanggil Mr. Garett, dimana itu adalah jalan David bertemu dengan Paul (guru Sejarah).

Singkat cerita, David berhasil menjauhkan teror Lucas terhadap dirinya dan membuatnya dikeluarkan (dismissed) oleh Jane. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Malam harinya, Lucas tiba-tiba ada di rumah David dan membawa anaknya ke ruang kelas, setelah ia membunuh istrinya. Saat David tiba, Lucas mengancam akan menikam bayinya dengan pena dan melakukan monolog.

"Why do we think that Lucas took Mr. Butler's family from him? It's an easy one. Well, it's an incentive..." 
"I didn't give you an A."  David menjawab. 

Percakapan berlanjut, dan Lucas tetap merasakan bahwa ia pantas mendapatkan nilai A. Namun, percapakan tersebut diakhiri dengan pertengkaran, dan Lucas berhasil ditangkap polisi.

Hal ini mengingatkan saya akan percapakan Greg sebelumnya yang berpikir "Apa gunanya?" adanya pengajaran, "Anak-anak tidak butuh guru, ketika mereka memiliki Google." Kemudian ditanggapi oleh David, "Benar, mereka bisa mendapatkan semua fakta dari internet. Tapi Google tak bisa memberikan pengajaran. Tidak untuk hal-hal terpenting."

Yes! That point!

Sebagian besar, film ini menggambarkan sosok generasi muda yang cenderung cemas dan takut berlebihan. Selain itu, seakan menggambarkan besarnya tekanan dalam menjalani suatu sistem pendidikan dengan persaingannya yang berat, bahkan tekanan kehidupan perkuliahan. Lucas sendiri digambarkan sebagai seorang psikopat, sosiopat yang sulit berekspresi. Terlihat dalam salah satu tampilan saat masih kecil ia sering merekam dirinya sendiri sedang berlatih untuk masing-masing emosi, seperti senang, sedih, khawatir, dll., seolah berlatih menjadi manusia, ucap ayahnya. Meskipun sebenarnya ia merupakan sosok murid yang diharapkan guru dengan sikapnya yang baik dan cerdas, namun tidak bisa menerima suatu kekalahan.

Kurangnya dari film ini menurut saya adalah tidak diceritakannya yang melatar belakangi bagaimana Lucas bisa menjadi tokoh psikopat, dan kisah sebab kematian ibunya - apa sudah tidak sanggup menghadapi Lucas seperti ayahnya yang mengakhiri hidupnya sendiri atau bukan? masih misteri. Satu lagi, terlihat adanya kelemahan dari Mr. Ward karena ia sebenarnya tau bagaimana Lucas, namun selalu melindungi jejak kejahatan anaknya, padahal bekerja sebagai pengacara pembela pidana.

Secara keseluruhan, meski alur film ini mudah ditebak, tapi banyak menampilkan beberapa kejutan dan tentunya menghibur dengan mengangkat genre horror yang ringan. Disamping itu, film ini merupakan film low-budget dan sebagai tanda kembalinya aktor Dylan Sprouse ke dalam dunia akting, setelah ia menyelesaikan studinya di New York University bersama kembarannya Cole Sprouse. Berbeda dengan Cole yang telah lebih dulu kembali ke dunia akting dengan perannya di Riverdale sebagai Junghead Jones, Dylan kini lebih memilih untuk bermain di film dan mengambil jalan terpisah, dimana sebelumnya selalu bermain di serial yang sama.

Tertarik untuk menontonnya? Silahkan.
But, don't even try!
To kill for a good grade...
Share:

January 13, 2018

Hello 2k18!


Saya baru sadar sekarang udah beda tahun yap. Ga deng, pas malam tahun baru saya ikut berkumpul sama keluarga besar dan ditunjuk 'sebagai panitia tahun baru'. Ga ada ngisi formulir atau proses seleksi, langsung main tunjuk aja dia. Maklum saya perwakilan anak muda sekaligus keponakan dari anak paling besar. Hm. Ya acaranya ga jauh-jauh dari makan bersama sih. Ada makanan dikit, langsung BAKAAAR BAKAAAR!!! Kaya episode Spongebob zaman prasejarah (goes prehistoric) pas baru menemukan api. Abis itu kita semua pada rebutan api ( . . . )

Pas malam tahun baru masih asik. Tapi pas paginya kayanya masuk angin deh. Lemah!
Iya iya saya lemah karena udara, alergi lebih tepatnya, alhasil sakit sekitar semingguan..

Oh iya gimana kalo cerita tahun baru mu?

Saya bersyukur telah melewati 2017 dengan cukup baik. Ya setidaknya ada pencapaian yang bisa didapat. Beberapa diantaranya, udah mulai rutin olahraga tiap minggu, dan alhamdulillah target lulus tepat waktu tercapai. Eitss.. tapi jangan berbangga dulu. Memang banyak mahasiswa yang sangat berharap lulus dengan cepat, begitupun saya saat status masih mahasiswa. Tapi sebenarnya tantangan semakin besar, dari yang awalnya masih mahasiswa langsung dituntut menjadi dewasa dengan sangat cepat. Terus, kesananya lo mau ngapain?

Oke. Pastinya kamu harus memilih untuk melanjutkan hidup.

Dibenak pribadi banyak banget pilihan-pilihan yang ingin dicapai, tapi harus ambil mana dulu atau yang mana?
Disatu sisi pengen lanjut kuliah, tapi cari uang dulu lebih penting kayanya... Seorang teman berkata, dalam mencari pekerjaan suatu perusahaan lebih banyak melihat dari pengalamannya bukan pendidikan (ya ini juga penting sih). Nah kebingungan lain, terus cari uangnya pakai cara cari kerja di orang lain apa buat usaha sendiri (entrepreneur)? Yap semuanya terasa menggiurkan dengan resikonya masing-masing. Disamping itu, saya salut sama teman-teman yang udah bisa bangun usahanya sendiri, meskipun itu masih kecil tapi saya salut sama kalian bisa berani memulai. Terkadang saya juga sering tanya dan cari ilmu ke mereka. Sukses selalu by the way guys!

Sejujurnya pengen banget kerja sejalan dengan jurusan kuliah yang saya ambil, yang dituntut untuk bisa berwirausaha. Tapi....
Sial. Banyak 'tapi tapi' rasanya.

Ga heran banyak dosen yang bilang, "Kita tuh terlalu banyak belajar tentang resiko, sehingga sulit sekali untuk membangun suatu usaha sendiri. Padahal pangsa usahanya sangat besar."
Mahasiswa: "Wah iya juga yaaa."
Dosen:"Jangan kaya saya ya, ga berani bangun usaha.."
Mahasiswa: "( . . . . .)"

Disisi lain teman-teman seperjuangan sedikit demi sedikit udah pada pulang kampung ke kotanya masing-masing. Dapat pekerjaan baru atau mulai berkeluarga. Keluarga semakin sering bertanya tentang pekerjaan dan sejenisnya. Ya sebelum itu tentunya ditanya, gimana skripsnya? kapan lulus? kapan wisuda? Kalian juga pasti mengalami tentang tingkat pertanyaan ini. OH NO! Kayanya ini udah masuk ke Quarter Life Crisis deh.

Quarter Life Crisis (krisis hidup seperempat abad) itu suatu masa dimana seseorang mulai merasa ragu terhadap kehidupannya akibat mencapai tingkat kedewasaannya, dimana hal ini terjadi diantara umur 20-30an. Membuat seseorang mempertanyakan tujuan dan arah hidup yang sedang dijalani. Selain itu, semua orang pasti akan merasakannya dan mengalaminya. Ya kamu tidak sendiri. Tak jarang saya pun merasakan cemas berlebih. Tapi jangan sampai berlarut-larut. Mungkin ini memang suatu masa yang harus dilewati untuk bisa membuat kita menjadi seseorang yang lebih baik dalam menjalani kehidupan *nasihatin diri sendiri*.

Oh iya ada istilah lain lagi nih yang bisa membuat masa-masa itu semakin terpuruk, yaitu Mental Block. Itu adalah suatu hambatan mental atau psikologis yang menghalagi seseorang untuk mencapai tujuannya, atau seperti adanya suatu keraguan akan kemampuan kita akibat bisikan dari diri sendiri atau ucapan dari orang lain. Seperti halnya takut mencoba atau takut gagal yang disertai alasan logis, kaya "Saya ga yakin bisa, itu mustahil, dapet uang dari mana?".

Mungkin ada beberapa cara untuk mengurangi keraguan, seperti bisa dengan cara sharing dengan teman, keluarga atau orang terdekat, atau bisa juga meluapkannya ke dalam sebuah karya kaya sebuah tulisan ini biar lebih percaya diri :") atau just do it.

Nah di samping itu semua, untuk menjalani kehidupan di tahun baru ini sebenarnya perlu ga sih buat resolusi?
Sangat perlu! *ngomong ke diri sendiri lagi* Resolusi atau target sama halnya dengan harapan yang ingin kita capai ke depannya. Sekaligus bisa menjadi semangat dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan perjuangan. Buat resolusi dari harapan tahun sebelumnya? Ga masalah! Selama kalian yakin bisa mencapainya. Salah satu resolusi saya sebenernya selain melanjutkan hidup dengan baik, ingin mengubah tampilan blog ini sih karena alasan tertentu, tapi masih bingung karena di sisi lain saya udah nyaman sama tampilan ini (cieee nyaman). Simple. Kita lihat nanti saja, jika menemukan yang pas saya akan ubah tapi tetap simple, inginnya. Terus pengen lanjut mengembangkan bakat dan hobi-hobi yang sudah sangat lama tidak diasah. Rindu rasanya.

Oh iya sebagai tambahan motivasi, ada satu lirik lagu yang pas banget untuk dikaitkan dengan pembicaraan ini. Kebetulan saat saya mengetik tulisan ini sambil mendengarkan musik (anak 90an pasti tau).

Kalau kau kejar mimpimu, salut.
Kalau kau ingin berhenti? Ingat tuk mulai lagi!
Tetap semangat, dan teguhkan hati di setiap hari.
Seringkali mimpi tak terpenuhi.
(Letto - Sampai Nanti, Sampai Mati)

Satu lagi, terima kasih juga buat teman-teman yang selalu mendukung dan masih tetap mau membaca tulisan-tulisan saya yang random ini, meskipun masih belum konsisten. Jujur saya dulu ga suka menulis, iseng iseng. Ini niat buat tulisan pendek, kok jadinya malah lumayan panjang juga ya.. Sekian deh.

Hopefully 2018 will be a great year for us!
Juga tentunya saya cepat menemukan arah jalan kehidupan selanjutnya. Yosh!
Share:

December 9, 2017

Saving Animal with Animal Welfare

Saat ini, isu Animal Welfare (Kesejahteraan Hewan) masih menjadi persoalan penting di dunia, dimana merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan (dalam sudut pandang perilaku alami) yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindunginya dari manusia yang berperilaku buruk yang berniat memanfaatkannya (UU No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan).


Adapun langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kesejahteraan hewan dengan mengacu kepada prinsip lima kebebasan (The Five Freedoms), yaitu:
1.   Freedom from Hunger and Thirst  -  (Bebas dari Rasa Lapar dan Haus)
2.   Freedom from Discomfort  -  (Bebas dari Rasa Tidak Nyaman/Senang)
3.   Freedom from Pain, Injury and Disease  -  (Bebas dari Rasa Sakit, Terluka dan Penyakit)
4.   Freedom to Behave Normally  -  (Bebas untuk Berperilaku Normal)
5.   Freedom from Fear and Distress  -  (Bebas dari Rasa Takut dan Stress)

Berat ya bahasannya. Tak apa lah sekali-kali (harusnya sering sih dalam konteks benarnya).

Sebenarnya memang belum banyak yang terlalu paham mengenai isu tersebut, khususnya Indonesia (di luar konteks sosial budaya sebagian masyarakat). Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan, sehingga diperlukan adanya penyuluhan. Konteks hewan disini diantaranya hewan buas, liar, domestik (ternak), bahkan peliharaan.

Di samping itu semua, beberapa hari sebelumnya saya mendapatkan kabar tidak menyenangkan mengenai matinya hewan yang sudah masuk dalam kategori langka, sehingga saya menjadi tergugah untuk membahas ini semua. Namun, bahasannya kali ini melalui ulasan (review) buku yang memang berkaitan dengan isu tersebut, dan hanya berfokus pada satu hewan saja, yaitu kuda.

Buku ini sendiri merupakan buku cetakan lama yang telah di publikasikan oleh banyak penerbit di berbagai negara. Judulnya yaitu Black Beauty karya dari Anna Sewell yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1878 dan merupakan buku pertama dan terakhirnya, karena 5 bulan setelah bukunya terbit ia tutup usia. Hal itu pula yang membuat buku ini menjadi buku sepanjang masa, dan telah diadaptasi ke serial televisi dan film.


Anna berhasil membentuk ceritanya dari sudut pandang seekor kuda, yang tentu tidak banyak penulis bisa mengemasnya menjadi luar biasa. Hal itu pula yang membuat saya tertarik untuk membacanya. Jujur, awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan buku tersebut, namun setelah membacanya dengan seksama bab demi bab (terdapat 4 bagian), rasa itu hilang sudah dimana semakin dalam semakin berhasil membuat penasaran dan cemas akan nasib kuda-kuda tersebut, terutama Black Beauty. Pasalnya isi keseluruhan dari buku ini mengisahkan perjalanan hidup seekor kuda (memang terdengar klasik) dari satu tempat ke tempat lain dimana tidak semua nasib kuda berjalan mulus bahkan menyebabkan kehilangan nyawa.

Berkaitan dengan Animal Welfare, disini disajikan berbagai perlakuan manusia terhadap kuda, baik dari yang mengharukan hingga yang memalukan sekali pun. Bagi pembaca yang tidak terlalu memahami seluk beluk kuda tidak perlu khawatir. Buku ini memberikan banyak informasi yang disajikan dengan jelas, dimana mencakup informasi dari segi peralatan (crupper, breeching, bit), makanan, hingga perlakuan apa yang harus diberikan kepada kuda. Selain itu, banyak pesan moral bersifat universal dan tak lekang oleh waktu yang bisa kita ambil.

Ceritanya sendiri berlatar belakang di zaman Victoria atau sekitar tahun 1800-an di Inggris. Diawali dari kisah rumah pertama Darkie (nama sebelum Black Beauty) yang hidup bersama ibunya. Sebelum berkelana, ibunya menceritakan mengenai keluarganya yang merupakan keturunan dari kuda baik. Tak hanya itu, ia memberikan nasihat yang akan selalu diingat Darkie agar selalu menjadi kuda baik apapun keadaannya. Saat mencapai umur 4 tahun ia dijual kepada seorang Hakim ternama yang menyayanginya dan dari dialah ia mendapatkan nama Black Beauty, kuda hitam tampan, gagah dan menawan dengan ciri khas tanda bintang putih di dahinya (FYI, mirip seperti sapi Fries Holland, bedanya sapi bentuk segitiga putih). Disana pula ia mulai mendapatkan banyak teman-teman sejenisnya dengan latar belakangnya masing-masing.

Perjalanan Beauty masih panjang, memasuki cerita bagian ke-2 kehidupannya mulai berubah dan berliku-liku, layaknya manusia. Perpindahannya membuat ia bertemu dengan banyak orang, terutama mengenal betul perbedaan perlakuan masing-masing majikan terhadapnya, yang berlanjut menuju kisah pada bagian ke-4, dimana nasib akhir Black Beauty ditentukan.

Cerita yang paling mengejutkan bagi saya terdapat pada bagian 'Ginger yang Malang' (teman Black Beauty), dimana ia yang dikenal selalu membela diri, saat itu sudah menyerah dan tidak sanggup lagi bekerja untuk tuan barunya dan berharap untuk mati saja. Selang beberapa waktu yang tidak lama Ginger kembali, namun dalam keadaan sudah tak bernyawa. Kisahnya terlihat singkat namun maknanya sangat mendalam.
"Memang pernah aku membela diri, tapi sia-sia saja. Manusia lebih kuat, dan jika mereka kejam dan tak berperasaan, tak ada yang bisa kita lakukan selain menanggungnya, menanggungnya terus hingga akhir. Aku ingin akhirnya segera tiba, aku ingin mati. Aku pernah melihat kuda-kuda yang sudah mati, dan aku yakin mereka tidak menderita kesakitan. Aku ingin bisa jatuh dan mati saat bekerja, dan tidak dikirim ke tukang jagal." - Ginger (hal 261, Black Beauty, Sewell A., Gagas Media)

Hal ini pula yang mengingatkan saya akan kecelakaan yang pernah saya alami, yaitu saat menaiki delman. Belum jauh berjalan tiba-tiba kudanya jatuh tergeletak tanpa mau bangkit kembali. Saat itu keadaannya di jalanan komplek perumahan sehingga tidak terlalu ramai seperti di jalan raya. Tak henti-hentinya kusir melemparkan tali kepadanya dan berusaha membangunkannya, tapi hasilnya nihil. Sejenak kuda tersebut dibiarkan dan kemudian ada yang membantu untuk melepaskan keretanya, saat itu pun kuda tersebut mau bangkit kembali. Hal tersebut membuat saya menjadi lebih waspada. Tidak sampai disitu, sesaat saya hampir sampai tujuan dengan berjalan kaki, kereta delman tersebut masih nekat untuk berjalan melanjutkan usahanya 😱

Meskipun saya tidak terlalu paham mengenai dunia kuda (karena saya tidak sempat mengambil mata kuliah kuda dan unit kegiatan mahasiswanya), tapi saya tau betul bagaimana perasaan binatang tersebut, sama halnya dengan manusia.
"Binatang akan melayani manusia dengan baik, apabila mereka diperlakukan dengan penuh perhatian"

Kembali lagi ke buku Black Beauty, dimana isi ceritanya dikemas dengan penuturan yang teratur dengan dilengkapi pengambaran masing-masing karakter dan suasana yang jelas. Dalam setiap cerita yang disajikan selalu tertuju kepada pesan untuk terus selalu berusaha bersikap baik kepada makhluk hidup manapun selagi kita masih bisa melakukannya, disamping mengetahui mengenai dunia kuda, baik tentang aktivitas, perilaku, intuisi, bahkan perasaannya.
"Tak mungkin ada agama tanpa cinta, dan orang bisa membual sebanyak mungkin tentang agama mereka, tetapi jika itu tidak mengajari mereka agar baik dan ramah kepada manusia dan binatang, agama itu palsu, dan tidak akan bertahan jika semua hal ternyata terbalik." - John Manly (hal 83)

Semoga kalian bisa berkesempatan membaca ceritanya secara lengkap dan selalu berusaha membangun kesejahteraan hewan dengan baik 😊
Share:

December 2, 2017

Pelatihan Bersama Google

Ini cerita udah lalu sebenernya, tapi sayang kalo ga cinta di share.
Cerita wisuda juga ku skip aja deh ya udah beberapa bulan lalu.

Berhubung waktu luang saya bertambah karena belum adanya kegiatan rutin dan serius, saya sering cari-cari info events yang bisa diikuti, seperti Talkshow, Pelatihan, Volunteer, atau kadang suka cari info lomba buat sekedar iseng aja.

Nah, berawal dari bunyi notifikasi grup Line angkatan, yang kebanyakan isinya job hunters semua. Dari sana ada yang berbagi info mengenai pelatihan digital yang diadakan oleh Google. Yap, Google mesin pencari yang udah punya nama di kancah dunia. Siapa coba hari gini yang gatau mbah Google. Saat kita kesusahan pasti minta bantuan kepada mbah Google, udah gratis (modal internet aja), siap sedia dimana pun dan kapan pun.

Jadi, karena itu saya ga mau menyianyiakan kesempatan tersebut.

Pelatihan yang diadakan oleh Google ini terdiri dari beberapa kelas yang bisa diikuti, yaitu Siap Digital, Handal Digital, dan Kelas Berbagi. Pelaksanaannya pun dalam selang waktu yang lumayan cukup lama. Saya sendiri baru mengikuti kelas Siap Digital saja, yang lainnya masih menunggu waktu pelaksanaan tiba.


FYI, ternyata pelatihan tersebut telah dilaksanakan di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, Medan, Pontianak, Malang, dan Makassar. Selain itu, pelaksanaan yang saya ikuti merupakan kelas ke 21 di Bandung dan pesertanya pun terbilang lumayan, itupun belum dengan jumlah peserta di kota lain, sehingga untuk kali ini sementara jumlah orang dibatasi melihat kenyamanan peserta dan fasilitator juga.

Acara ini sendiri merupakan program Gapura (Gerakan Pelatihan Usaha Rakyat) Digital dari Google Indonesia, yang berkomitmen untuk membantu para pelaku UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di Indonesia.


Namun, yang dapat mengikuti kelas tersebut tidak terbatas hanya untuk para pelaku usaha saja, bagi kamu yang baru mau memulai bisnis sendiri juga bisa, seperti saya 😁

Jujur, setelah mengikuti kelas tersebut jadi menambah semangat untuk memulai usaha sendiri, dengan mendengar cerita para peserta yang sudah terjun berbisnis serta sang pemateri. Sebenarnya acara tersebut bukan fokus pada pengajaran cara berbisnis, tetapi untuk mengenal lebih dalam bagaimana membangun usaha melalui dunia digital.


Umumnya, pelaku usaha yang telah masuk dunia digital (online) lebih berkembang dibandingkan dengan pelaku usaha yang hanya memasarkan secara offline, kira-kira bisnis online dapat meningkat sekitar 80%. Kemudian, seperti yang diketahui, zaman sekarang hampir semua orang telah mengenal dunia digital (internet) dan menggunakannya, atau lebih detailnya ada sekitar 100 juta pengguna internet di Indonesia, dan sekitar 82% orang mencari informasi mengenai toko/sejenisnya. Melihat hal-hal tersebut, tentu peluang itu bisa kita manfaatkan, seperti dalam membangun suatu usaha/bisnis.

Kelas Siap Digital sendiri ini terdiri atas 4 materi yang dilaksanakan selama 2 hari (untuk Bandung dilaksanakan di Eduplex), diantaranya: Panduan Dunia Digital, Google untuk Bisnismu, Tips Website Efektif, dan Dasar-Dasar SEO & SEM. Tentunya dengan fasilitator (pemateri) yang berbeda-beda tiap materinya dan ahli dalam bidangnya masing-masing.

Panduan Dunia Digital sendiri berisi tentang pengenalan dasar mengenai dunia digital, seperti peran dunia digital, keuntungan bisnis 'go online', pilihan-pilihan rumah bisnis untuk 'go online' (media sosial, e-commerce, website, dll.), serta bagaimana langkah membangun rumah bisnis online.  

Pada kelas Google untuk Bisnismu diperkenalkan dengan berbagai produk Google yang bisa digunakan dalam membangun bisnis online (Google Bisnisku, Youtube, Google Mitra, AdWords Express, Google Trends, dll.) dengan pemahaman serta praktik bagaimana membuat dan memanfaatkannya dengan baik.


Tips Website Efektif sendiri berisi panduan dalam membuat website bisnis atau bahan evaluasi pengembangan website yang telah dimiliki. Beberapa diantaranya memahami pentingnya memiliki website yang efektif untuk bisnis, cara kerja website dan sistemnya, kriteria website bisnis yang efektif, serta memahami hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat website.


Dasar-Dasar SEO & SEM, berisi bagaimana memahami peran mesin pencari dalam meningkatkan performa bisnis, mengenal dasar-dasar SEO (pengembangan, cara optimalisasi, analisa performa) dan SEM (kegunaan, cara bekerja, pemilihan kata kunci/keyword, membuat iklan yang menarik). SEO (Search Engine Optimation) berfungsi membantu promosi dalam hasil pencarian tak berbayar (organik) dan mengoptimalisasikan di mesin pencari, sedangkan SEM (Search Engine Marketing) memungkinkan untuk membeli ruang/tempat beriklan berbayar dari hasil pencarian (bagi yang butuh proses instan).

Proses pelatihannya pun cukup menarik, tidak hanya sekedar berbagi materi saja tetapi langsung diajarkan praktiknya sendiri. Sehingga, prosesnya sendiri tidak hanya satu arah, melainkan dua arah (saling sharing ilmu dan pengalaman masing-masing). Saya berharap ke depannya bisa mengikuti kelas lanjutan program Gapura Digital dan juga bisa secepatnya terjun membangun bisnis online.

Satu lagi, terima kasih Google telah mengadakan acara seperti ini. Sering-sering ya, apalagi yang gratis huahahaha ✌

(jangan cari saya ada dimana...)
***
Share: