Perburuan Rempah Mengawali Penjajahan di Indonesia

Berhubung waktu lalu merupakan Hari Film Nasional, saya ingin merayakannya dengan mengulas salah satu film Indonesia. Membahas sedikit mengenai Hari Film Nasional, jatuh pada 30 Maret karena tepatnya ditanggal yang sama tahun 1950 merupakan hari pertama pengambilan gambar film lokal pertama pula yang bercirikan Indonesia baik dari sutradaranya yaitu Usman Ismail dan juga diproduksi perusahan Indonesia, yaitu film Darah & Do'a (Long March of Siliwangi). Meski, saat ini tentu film-film Indonesia tidak kalah bagus dengan produksi luar, bahkan bisa bersaing dan bersanding dengannya.

Oke, kembali ke topik. Pilihan saya terjatuh pada jenis film dokumenter yang mungkin peminatnya tidak terlalu banyak, terutama jika dibandingkan film romansa dan sebagainya. Film tersebut adalah Banda The Dark Forgotten Trail, disutradarai oleh Jay Subiakto yang biasanya membuat video klip dan pagelaran konser, juga naskahnya ditulis oleh Irfan Ramli (Cahaya dari Timur Beta Maluku, Surat dari Praha, Filosofi Kopi 2). Awal ide pembuatan ceritanya pun tidak sengaja, dimana muncul dari sang produser Sheila Timothy (Lifelike Pictures) yang saat itu sedang berada di pameran melihat jalur rempah yang merupakan cikal bakal dari jalur sutra.

Film ini dirilis pada tanggal 31 Juli 2017, bertepatan dengan hari jadinya Perjanjian Breda (1667), dan tayang di bioskop 3 Agustus 2017. Namun, waktu penayangan terhitung sangat singkat dan tidak tayang di semua bioskop karena adanya pro kontra, mengingat takut terjadinya konflik dan dianggap mengubah kisah aslinya (sejarah). Disamping itu, film ini memiliki rating tinggi di IMDb sebesar 8.3/10, juga telah mendapatkan penghargaan Piala Maya sebagai Film Dokumenter Panjang Terpilih (2017), dan masuk nominasi Piala Citra (2017) kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik, serta Best Documentary Film dalam Asia-Pasific Film Festival (2018).


Dari isi ceritanya, sebagian besar membahas tentang perebutan atas rempah yang ada di Pulau Banda (pulau kecil di bagian Timur Indonesia) yaitu Pala oleh bangsa Eropa. Sedikit flashback, saat di sekolah dulu juga pernah dipelajari mengenai penjajahan karena rempah Indonesia. Jujur sih dulu saya tidak terlalu suka dan paham dengan Sejarah, bahkan pernah jengkel karena jurusan IPA pun harus mempelajarinya (jangan dicontoh ya), tapi kian lama sekarang malah cukup tertarik dengan dunia sejarah, terutama sejarah Indonesia. Oh iya, selain itu dulu belum paham sama sekali mengapa rempah-rempah dikaitkan dengan penjajahan di Indonesia, dan setelah menonton film ini sudah bisa menjawab rasa ketidaktahuan saya saat itu.

Balik lagi ke cerita film, pala saat itu menjadi salah satu komoditi perdagangan penting nan tersohor, dimana hanya baru bisa dikembangbiakan di Pulau Banda saja dan membutuhkan waktu yang cukup lama (meski sekarang sudah dicoba dikembangbiakan di tempat lain, seperti Jawa dan Aceh, namun kualitasnya masih unggul Banda karena harus didukung oleh tanah vulkanis dan udara laut). Bahkan ada pepatah yang mengatakan, "siapa yang mampu menguasai Pala, ia akan mampu menguasai dunia". Mengingat manfaatnya yang sangat penting yaitu sebagai bahan pengawet, terlebih sebelum ada lemari pendingin, juga dijadikan sebagai status sosial. Pala juga termasuk dalam kategori zero waste atau bagian-bagiannya tidak ada yang terbuang, dari buah, kulit yang menempel pada biji (fuli), bijinya, juga daunnya sebagai minyak, dimana selain yang telah disebutkan dapat dimanfaatkan sebagai makanan dan obat penenang, sehingga nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan emas sekalipun. Selain pala, sedikit disinggung pula mengenai rempah lain yaitu cengkeh dari Ternate, Tidore yang juga memiliki peran perebutan rempah dalam komoditi perdagangan saat itu.

klasifikasi buah pala
Berkaitan dengan hal tersebut, kabar cepat tersebar terutama oleh bangsa Eropa, yang kemudian mereka melakukan perburuan dan mencari jalur yang tepat, dari Columbus yang kemudian tersesat dan pada akhirnya menemukan Benua Amerika, hingga pada akhirnya ditemukan oleh bangsa Portugis dan langsung memperbesar pasukannya, begitupun dengan Spanyol. Singkat cerita, bangsa Eropa semakin tamak terutama Belanda, dengan melarang masyarakat Banda untuk memperjual belikan Pala di perdagangan bebas selain pada bangsa Eropa. Tentu peristiwa ini menyebabkan terjadinya berbagai konflik akibat dari tidak adanya persetujuan dari masyarakat Banda, terutama atas tewasnya Laksamana Pieterszoon Verhoeven yang menyebabkan Jenderalnya, yaitu Jan Pieteszoon Coen menanam rasa balas dendam, yang kemudian terjadi pembantaian massal pertama (genocide) pada pribumi setelah ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal (1621), dimana masyarakat asli Banda yang asalnya 15.000 jiwa menjadi 1000 jiwa, dari yang dibunuh, dijadikan budak hingga yang melarikan diri, sehingga untuk saat ini sulit sekali untuk menemukan masyarakat asli Banda di daerah tersebut. Peristiwa ini pula yang menjadi pemicu munculnya kolonialisme di Indonesia.

ilustrasi pembantaian massal pertama oleh 4 kuda, dilanjutkan dengan pemenggalan kepala pada yang lain
Meski bangsa Eropa disini terlihat sangat berani, namun mereka membangun 12 benteng di Banda karena tidak ingin daerah kekuasaanya direbut, juga sebagai tempat penimbunan rempah. Selain itu, Belanda rela untuk menyerahkan salah satu pulaunya yaitu Nieuw, Amsterdam (sekarang Manhattan) untuk ditukar dengan Pulau Ruhn (penghasil pala terbesar) yang sempat dikuasai oleh Inggris dengan disetujuinya Perjanjian Breda.

Cerita semakin berkembang, namun dipertengahan, topik utama mengenai perebutan rempah pala seakan mulai terganti oleh topik yang membahas mengenai cerita tokoh-tokoh Indonesia yang pernah diasingkan ke Banda karena tempatnya yang terlihat cukup terisolasi, seperti Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangunkusomo dan Iwa Kusuma, bahkan untuk menghormatinya dua Pulau Banda diantaranya diganti nama menjadi Pulau Hatta (Pulau Rozengain) dan Pulau Sjahrir (Pulau Pisang). Dipaparkan juga jika cikal bakal terbentuknya Indonesia karena Pulau Banda, dimana berisi masyarakatnya yang sudah hidup berdampingan dengan berbagai macam latar belakang budaya (multikultural).

"Banda adalah miniatur Indonesia, tersusun dari berbagai latar belakang dan bangsa-bangsa yang telah final menjadi sebuah suku bangsa."

Disamping itu, diceritakan pula bagaimana saat itu Banda sempat terjadi konflik agama, melaui cerita pengalaman dari salah satu narasumber yang masih merupakan keturunan (ke-13) dari bangsa Belanda, Pak Ponky van den Broke yang juga telah menjadi pemilik perkebunan pala. Menurut saya, bagian ini merupakan salah satu yang menarik, melihat bagaimana sedihnya dan kuatnya beliau menghadapi peristiwa saat itu, dimana ia kehilangan semua keluarganya yang dibunuh oleh masyarakat dan hampir kehilangan nyawa.
salah satu cuplikan film yang kelam dan cukup membuat merinding

Oh iya, selain Pak Ponky ada beberapa narasumber yang terlibat dalam film dokumenter ini untuk melengkapi ceritanya, seperti dari kalangan Sejarawan, Pemerhati Sejarah, Pemilik Kebun Pala, Pemuka Adat, Masyarakat Banda, Masyarakat dari kalangan Tionghoa, bahkan mahasiswa, terlebih membahas mengenai kurangnya orang yang ingin kembali ke Banda setelah studi/kuliah diluar Banda untuk mengembangkan daerahnya. Tak lupa dari pemerhati sejarah, Pak Lukman A. Aang mengharapkan budaya Banda yang dulu pernah ada, kembali di lestarikan dan dijaga meski Banda telah maju. Ada juga ucapan menarik dari Pak Wim Manuhutu (Sejarawan), ia tidak ingin Banda dijadikan "Bali kedua" yang hanya dijadikan tempat berwisata, namun ia menginginkan dijadikan sebagai tempat pembelajaran sejarah terlebih banyaknya situs bersejarah yang ada dan terabaikan saat ini, selain itu Banda telah menjadi situs warisan dunia.

Bersanding dengan informasi dari beberapa narasumber yang telah disebutkan, film ini disajikan dengan visualisasi penggambaran alam di Pulau Banda, dibantu juga dengan beberapa ilustrasi dari murid SMK Raden Umar Said Kudus, serta dipandu suara dari Reza Rahardian sebagai narator (versi Indonesia) dan Ario Bayu (english version). Seperti yang diketahui, kedua aktor tersebut sudah tidak diragukan lagi dalam berakting, bahkan ternyata suaranya pun bisa dibilang sangat menjual. Selebihnya, film ini berisi mengenai cerita Pulau Banda saat kejayaannya, berlanjut dengan penjabaran kondisinya sekarang yang sudah terlupakan, hingga pengungkapan harapan masyarakat Banda ke depannya.

Menurut saya, film ini cukup bagus juga sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat Indonesia, dan layak untuk ditonton terutama bagi teman-teman yang suka dengan film sejenis ini (NatGeo, Discovery Channel), dan minat terhadap sejarah. Oh iya, ada beberapa yang sedikit mengganggu saya saat menonton, seperti banyaknya pengulangan gambar yang disajikan (mungkin karena banyaknya DOP yang terlibat, 6 orang), berikut dengan background suara yang menurut saya terlalu keras, sehingga sedikit menutupi narasi yang disampaikan. Namun, jika dilihat dari pengemasan visual dan background suara sudah cocok yang terkesan kelam dan mengerikan. Pada akhir acara cukup membuat keharuan, dengan ditutup oleh penyampaian puisi Chairil Anwar - Cerita Buat Dien Tamaela oleh narator dan nyanyian Lagu Nasional Indonesia oleh anak-anak yang ada di film. Kabarnya, kisah ini akan diangkat menjadi komik, tapi sampai saat ini belum ada pemberitahuan lebih lanjut.

"Jangan harapkan bangsa lain menghargai bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan ibu pertiwi."

"Jatuh bangunnya negeri ini tergantung dari bangsa ini sendiri, makin pudar kesatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta."
*

2 komentar:

  1. Nice review Mbak. Kalau boleh tau, filmnya bisa didownload dimana ya? Tertarik juga untuk nonton :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih :)
      Coba saja googling, nanti bisa dapat infonya kok.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.