The Great Hack, Dokumenter Kasus Cambridge Analytica

Kasus pencurian data di era digital saat ini mulai terlihat. Di Indonesia sendiri, baru-baru ini ramai akan kasus jual beli Nomor Induk Kependudukan (NIK) di media sosial, khususnya di Facebook melalui komunikasi antarpengguna.

Berbeda dengan kasus yang melibatkan Facebook di tahun 2018 lalu, pencurian data oleh Cambridge Analytica (CA). Perusahaan konsultan analisis data asal Inggris yang terkemuka di dunia, anak usaha dari Strategic Communication Laboratories (SCL Group). SCL awalnya merupakan sebuah kontraktor militer dan kemudian menyediakan data, analisis dan strategi untuk pemerintah dan organisasi militer di seluruh dunia.

Sejak ramainya kasus ini, saya sempat mengikuti sekilas dan mencoba cek data pribadi di Facebook. Bagi teman-teman yang juga mengikuti kasus ini dan masih belum paham, bisa coba menonton film dokumenter The Great Hack dari Netflix yang rilis tanggal 24 Juli 2019 lalu. Hasil karya dari Karim Amer dan Jehane Noujaim, sutradara dari film The Square yang berhasil masuk nominasi Oscar. Secara keseluruhan, jelas film ini membahas tentang kasus tersebut dan lebih menyoroti CA.



Pemerintah Indonesia sendiri ikut ambil bagian menangani kasus ini, dengan mengadakan sidang kebocoran data yang ditujukan untuk Facebook Indonesia. Hal ini guna menyelidiki apakah data masyarakat Indonesia ikut bocor atau tidak. Tetapi, pihak Facebook menyatakan jika data di luar wilayah Amerika tidak ikut dipakai CA.

Diawali dari adanya tuntutan David Carrol, Professor Parsons School of Design sekaligus mengajar media digital, yang menginginkan semua data miliknya kembali. Berhubungan dengan profesinya, ia tau jika datanya tidak begitu saja hilang, menduga jika jejak digital sedang dikumpulkan atau ditambang menjadi industri triliunan per tahun. Sejak saat itu ia bersikap sangat protektif terhadap kedua anaknya dalam menggunakan aplikasi. Terlebih kebanyakan orang malas membaca syarat dan ketentuannya secara lengkap. Ayo ngaku~

David Carrol, Professor Parsons School of Design - The Great Hack (2019) Netflix

Kemudian jurnalis The Guardian, Carole Cadwalladr ikut menyelidiki kasus ini bahkan sempat dipermalukan melalui video yang dibuat pihak terkait. Carole menyebut taktik CA sebagai alat pembajakan demokrasi. Persenjataan menggunakan data pribadi tanpa sepengetahuan pemilik, untuk memengaruhi pemilihan politik.

Carole Cadwalladr, Jurnalis The Guardian - The Great Hack (2019) Netflix

Carole mulai dengan menghubungi orang-orang yang dulu bekerja di CA, seperti Christopher Wylie selaku mantan pendiri CA dan ilmuwan data, sekaligus pelapor (whistleblower). Wylie menyebutkan CA bukan hanya perusahaan murni ilmu data atau algoritma, namun merupakan mesin layanan propaganda (upaya memanipulasi/memengaruhi perilaku agar memberikan respon yang dikehendaki pelaku secara sengaja). Ide awalnya muncul dari Breitbart (situs web politik berhaluan pada kelompok penguasa) melalui Steve Bannon, mantan editor Breitbart.

Christopher Wylie, pendiri Cambridge Analytica dan whistleblower - The Great Hack (2019) Netflix

“Jika ingin mengubah masyarakat secara mendasar, kau harus menghancurkannya dulu. Hanya saat kau merusaknya, kau bisa menyusun kembali pecahannya ke dalam visi masyarakat barumu.”

Tindakan untuk merealisasikannya dibutuhkan data, sehingga Wylie menghubungi Professor Cambridge University, Alexandr Kogan. Ia menawarkan aplikasi di Facebook berizin khusus untuk memanen data bukan hanya dari satu pengguna (akun) saja, tetapi bisa langsung terhubung dengan jaringan teman-temannya, tanpa mereka harus ikut menggunakan aplikasinya. Diketahui aplikasi ini bernama “It’s Your Digital Life” semacam kuis yang bisa diikuti siapa saja secara bebas.

Tokoh lainnya adalah Brittany Kaiser selaku pelapor dan mantan tokoh penting di CA, yaitu sebagai direktur pengembangan bisnis. Sejak umur 14 tahun ia sudah terjun ke dunia politik dengan bekerja di pemilu. Dilanjutkan dengan ikut magang di kampanye Obama dalam tim pengelola Facebook, kemudian di HAM dan Hubungan Internasional. Namun, hasil kerja kerasnya tersebut dirasa tidak bisa dilihat secara nyata pengaruhnya.

Brittany Kaiser, whistleblower - The Great Hack (2019) Netflix

Kemudian ia bertemu Alexander Nix, yang tak berapa lama menawari Kaiser pekerjaan. Nix sendiri adalah pendiri dan CEO Cambridge Analytica (CA) yang sebelumnya bergabung ke SCL Group setelah menyelesaikan studinya di Manchester University.

Alexander Nix, CEO Cambridge Analityca - The Great Hack (2019) Netflix

CA terungkap bergabung membantu kegiatan kampanye Trump, dan kemudian semakin terungkap pula bagaimana prosesnya bekerja. Termasuk penggunaan aplikasi Facebook untuk membentuk model kepribadian bagi semua pemilih Amerika Serikat. Kaiser menjelaskan jika aplikasi tersebut sebenarnya tidak menargetkan keseluruhan pemilih secara rata, dan hanya digunakan untuk mengincar para pemilih pemula atau yang masih bisa berubah pikiran (bisa dibujuk). Namun, akhirnya mereka terungkap menggunakan cara kotor, dengan membuat semacam berita palsu.

Mungkin hal ini pula yang menginspirasi dan ditiru Indonesia saat pemilu kemarin. Melalui tersebarnya berita palsu (hoax) atau hal-hal yang membuat geram di media sosial. Kita tidak tau pasti.

Nix secara tidak langsung menjelaskannya di Corcodia Summit mengenai keahliannya dalam memenangkan Trump tentang kekuatan besar dari data dan psikografis (identifikasi karakteristik kepribadian dan sikap yang memengaruhi gaya hidup seseorang dan perilaku). CA mengaku memiliki 5000 titik data yang bisa digunakan memprediksi kepribadian tiap orang, karena kepribadian dapat mendorong perilaku dan perilaku akan memengaruhi cara memilih.

Setelah mendapatkan model kepribadian, ia bisa mulai menargetkan orang dengan menciptakan konten berupa video sangat tertarget (dipersonalisasi) yang bersifat persuasif. Konten disebar secara online, hingga pengguna melihat dunia yang ingin pembuat konten lihat, dan akhirnya dapat memicu untuk memilih kandidat yang ditargetkan sebelumnya.

Cara kerjanya seperti bumerang, pengguna mengirim data, kemudian dianalisis dan kembali sebagai pesan yang ditargetkan untuk mengubah perilaku. Sederhananya, semacam ketika kita mendapatkan suatu konten dengan nada "mungkin kamu suka ini (you might like this)", dan kenyataannya kita memang suka bahkan sangat akurat. Itulah tanda di mana suatu platform berhasil melakukan penargetan.

Namun, cara CA terbilang kotor, terbukti dari video rekaman rahasia dari Channel 4 News yang menampilkan Nix bertemu klien dan memaparkan cara kerjanya. Ia mengungkapkan bagaimana mereka menciptakan konten yang dirancang tanpa bisa dilacak dan kemungkinan adanya suap dan jebakan. Diduga, dari kemenangan Trump ini hanya 1 dari 157 orang yang memilih berdasarkan pendapat pribadinya.

Atas kejadian ini, Nix dipecat dan CA secara mendadak ditutup. Kritikus percaya, jika tutupnya perusahaan diduga karena mereka berusaha membatasi investigasi pihak berwenang dan menyingkirkan bukti. Semua tokoh penting yang terkait dalam kasus ini pun dipanggil untuk melakukan persidangan, termasuk Mark Zuckeberg CEO Facebook untuk mempertanyakan keterlibatannya, terutama mengenai perlindungan data penggunanya.

Mark Zuckeberg, CEO Facebook - The Great Hack (2019) Netflix

Sejauh itu masih banyak hal lain yang bisa dibahas dalam kasus ini, tapi akhirnya CA mengaku bersalah tanpa penjelasan lebih lengkap. Mungkin sebagian orang tidak akan terlalu paham, begitupun dengan saya pada beberapa bagian, menyinggung soal politik yang telah terjadi jauh sebelumnya.

Pasalnya, CA ini terlibat telah melakukan rekayasa perilaku di 60 negara, terutama negara berkembang, seperti cara membujuk orang, serta menekan dan meningkatkan jumlah pemilih. Hal mengejutkan lainnya adalah Indonesia termasuk terlibat dengan CA di tahun 1998.

Pengalaman Global Cambridge Analytica (CA)

Indonesia termasuk dalam pengalaman rekayasa kepribadian Cambridge Analytica (CA) tahun 1998
Dilansir The Independent, Presiden Indonesia ke-4, Abdurahman Wahid (Gusdur) pernah menggunakan jasa CA melalui Nigel Oakes selaku pendiri SCL. Para pekerja Indonesia yang ikut membantu memanggilnya Mr. Bond karena dari Inggris dan misterius. Mereka mengaku jika hanya melakukan yang diminta tanpa mempertanyakan tujuannya. Namun, berdasarkan Kumparan, pihak dari Gusdur sendiri membantah pernah berhubungan dengan Oakes, bahkan mengaku tidak mengenali namanya.

Cuplikan akhir film ini menampilkan tulisan yang mengatakan kondisi beberapa tokoh terkait setelah peristiwa tersebut. David tidak berhasil mendapatkan datanya, namun dalam trivia film mengatakan jika ia telah berhasil memenangkan kasusnya, dengan catatan masih menginginkan hasil yang lebih.

Setelah menonton film tersebut banyak hal lain yang bisa didapatkan, karena dari satu topik bisa berhubungan dengan topik lain dan meluas. Oh iya, bagi teman-teman yang sangat mengikuti kasus ini mungkin tidak terlalu tertarik, pasalnya tidak disajikan hal baru di samping pemberitaan yang telah beredar sebelumnya.

Pembelajaran yang bisa diambil, terutama di zaman era digital seperti ini, teknologi akan semakin berkembang bahkan mungkin bisa menjadi senjata bagi kita sendiri. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mulai membatasi penggunaan data pribadi dan menyebarkannya ke media digital, meskipun kita tidak tau bagaimana bentuk pastinya apa yang bisa dilakukan dengan data pribadi kita.

Namun, jika dilihat dari masyarakat Indonesia sendiri, mungkin belum banyak yang sadar akan bahayanya memberikan data pribadi cuma-cuma. Bagaimana tidak? Kemarin saja saat adanya pemadaman listrik tiba-tiba masih banyak yang mengeluh, dan merasa seperti di zaman prasejarah. Tapi tidak salah juga, karena banyak yang mengalami kerugian besar atas peristiwa itu. Intinya ya cukup batasi saja dan tau di mana harus menempatkan diri.

Saat ini, data adalah aset paling berharga di bumi, bahkan bisa melampaui nilai minyak. Begitupun dengan perusahaan teknologi adalah perusahaan terkuat, bernilai karena bisa mengeksploitasi aset orang. Mengutip dari The Great Hack, "hak data pribadi harus diakui sebagai hak asasi manusia (HAM) baruーdata rights are human rights."

10 komentar:

  1. Warga atau masyarakat disekitar kita mayoritas lugu dan jujur. maka tidak heran, kalau untuk soal data, memberikan dengan detail sekali.

    BalasHapus
  2. Dengar-dengar kemarinan pemerintah juga menjual data ke perusahaan-perusahaan swasta. Hahaha. Kan konyol. Pantes aja nomor baru pun tiba-tiba sering dapat SMS pinjaman online, atau telepon dari asuransi. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya saya juga sempat dengar berita itu sekilas.
      Masalah sms, saya juga pernah bertanya-tanya mereka dapat nomornya dari mana. Masa iya asal pilih dan kombinasiin sendiri..

      Hapus
  3. Wah aku mau coba nonton ah the great hack tu. Penasaran. So aku punya facebook dan dulu tu aku sering pasang berbagai macam aplikasi. Tapi sekarang gak lagi. Ngeri ih. Untunya info yg di luar US ga dipake ya. Tapi kan itu cuma ucapan belaka, bener apa gak ya ga tau deh. Semua orang bisa aja bilang begini tapi nyatanya begeno. Untuk sosmed aku punya email sendiri sih, nomor telpon sendiri yg gak bercampur dengan nomor telpon utama. Bahkan aku ga pernah pake nomor itu. CUma rutin diisi pulsa 20 ribuan aja. Karena rutin isi pulsa jadi banyak. Kadang suka kirim pulsa ke temen.. tapi mereka bayar, haha. Aku cuma punya 1 telpon seluler aja. Ganti nomor sosmed kalo butuh kirim kode konfirmasi atau sejenisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Tapi kan itu cuma ucapan belaka, bener apa gak ya ga tau deh." Ini bener sih kita gatau gimana kenyataaanya.

      Oh iya, mengenai nomor telepon penting juga untuk dipisahin dengan media sosial. Terima kasih loh sudah mengingatkan.

      Hapus
  4. Perasaan pernah komen di postingan ini deeeeh. Huhuhuu. Malah seinget aku dulu nonton itu gara-gara tulisan kamu ini. Daan nggak lama setelah nonton malah disuruh kerjaan kantor nulis tentang pencurian data. Hueuehehe. Tapi beneran seru sih emang filmnya. Dan jadi beneran serem karena nasib masa depan ada di tangan orang yang berkuasa sama internet. \:p/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah masasih? Soalnya saya tidak merasa menghapus komentar bang adi kok.
      Btw, kebetulan sekali dong. Terus dapat tambahan ilmu baru apa? Paling lebih hati-hati yaaa, kan orangnya parnoan hahaha.

      Hapus
  5. Agree bgt dengan tulisan ini. Kebanyakan dari pengguna di Indo enggak terlalu peduli dengan kasus CA, pdhl dari kasus ini banyak kan yg bisa dipelajari oleh pengguna internet. Ya itu salah satunya kalau apapun yg kita share ke internet bisa digunakan oleh siapa pun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kata Garyvee, apapun yang sudah di share ya sudah jadi milik bersama~

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.