February 25, 2017

Memilih Akhir Cerita Sendiri

Kebebasan adalah hak semua orang, namun untuk memperolehnya tentu tidak mudah. Nah bagi kalian yang mengaku pecinta film atau hanya sekedar mengisi kekosongan boleh nih dicoba menonton salah satu film yang ada kaitannya dengan kebebasan, yap untuk memilih akhir ceritanya sendiri dari sudut pandang masing-masing.

Nocturnal Animals merupakan film kedua dari Tom Ford yang juga berprofesi sebagai fashion designer, dimana telah dirilis pada tanggal 2 September 2016 di Venice Festival dan 9 Desember 2016 secara luas di AS. Jenis genre film ini adalah drama psikologis thriller. Film ini cocok buat kalian yang suka merenungkan film setelah menontonnya, bahkan ingin menontonnya lagi untuk meyakinkan dan melihat dari sudut pandang lain. But..

1.  Review ini penuh dengan spoiler. Jadi bagi yang masih belum nonton dan berniat nonton dulu silahkan jangan dibaca dulu.
2. Review ini bisa mempengaruhi sudut pandangmu sebelum menonton.

Tapi kalo kalian berniat membaca terlebih dahulu untuk mengumpulkan niat untuk menonton silahkan.

Oke. Here we go.

Secara garis besar Nocturnal Animals memiliki tiga narasi: cerita novel, masa lalu, dan masa sekarang yang disajikan acak namun rapi. Tanpa disadari sebenarnya hal itu saling berhubungan tidak langsung yang akan membentuk makna dibalik ceritanya. Sejujurnya saya pun menonton ini dua kali, because the film continued haunt me long after i watched.

Cerita utama dari film ini adalah Susan Morrow (Amy Adams) merupakan kurator seni namun tidak merasa bahagia dengan hidupnya, meskipun ia memiliki segalanya. Kemudian dia mendapatkan kiriman sebuah buku novel dari mantan suaminya Edward Sheffield (Jake Gyllenhaal) yang sudah 19 tahun tidak pernah berhubungan lagi. Susan mulai membacanya, dimana buku itu ditujukan untuk dirinya dengan judul "Nocturnal Animals" yang merupakan julukan lama dirinya dari Edward, karena perilakunya yang jarang tidur.
"My ex-husband used to call me a noctunal animal..."


Menariknya cerita novel tersebut disajikan dengan visual yang pas (layer cerita kedua). Novel tersebut menceritakan Tony Hastings diperankan juga oleh Jake Gyllenhaal, dimana istri dan anaknya dibunuh secara brutal oleh beberapa preman di Texas yang diketuai oleh Ray Marcus (Aaron Taylor-Johnson) dengan aktingnya yang creep dan akan membencinya. Kejadian ini terus berlangsung hingga Tony mencari para pelaku untuk balas dendam yang dibantu oleh Detektif setempat Bobby Andes (Michael Shannon).

Semakin dalam mengikuti cerita, Susan merasa dihantui oleh cerita tersebut. Selain itu, ia seakan kembali ke masa lalu (layer cerita ketiga) untuk mengingat awal pertemuannya dengan Edward dan menyakitinya, hingga melanjutkan hidupnya dengan Hutton Morrow (Armie Hammer).


Kembali ke novel, pada akhirnya Tony berhasil balas dendam dengan membunuh Ray karena persidangan menyimpulkan Ray tidak bersalah atas kurangnya bukti yang bisa ditemukan. Setelah itu, tanpa sengaja Tony melukai dirinya sendiri hingga menghilangkan nyawanya sendiri.

Kagum dengan novel buatannya, Susan ingin bertemu dengan Edward dan mencoba menghubunginya melalui email. Dibalaslah email tersebut dan Edward menawarkan agar Susan sendiri yang menentukan tempat dan waktu pertemuaanya. Di hari pertemuan, Susan sangat memperhatikan penampilannya (menghapus lipstik dan cincinnya) seakan ia kembali jatuh cinta kepada Edward dengan penampilan lugunya. Tapi, setelah beberapa jam ia menunggu, Edward tidak datang dan cerita berakhir. What does it all mean?

Dari sudut pandang saya sendiri, tentu akhir cerita dari film ini memberikan banyak makna. Baik bermakna pembalasan dendam, pembuktian diri, move on, atau cerita untuk mengakhiri hidup?. Sebenarnya jika diperhatikan secara seksama pada visual yang disajikan banyak petunjuk-petunjuk yang bisa menyimpulkan isi ceritanya, seperti halnya lukisan "Revenge" yang berarti balas dendam, like "Revenge Edward is completed".


Secara keseluruan isi novel Edward tersebut seakan menggambarkan kehidupan dirinya, dimana ia kehilangan seseorang yang dicintainya sekaligus anaknya yang diaborsi, seperti halnya kisah Tony yang kehilangan istri dan anaknya sekaligus. Tentu hal ini membuat Edward mengalami trauma. Selain itu, sifat Tony yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong keluarganya seakan menggambarkan sosok Edward yang lemah. Di akhir cerita seakan ia bunuh diri, pertanyaannya apakah di dunia nyata pun demikian?

Sekali lagi jawabannya tergantung dari sudut pandang masing-masing penonton. Pasalnya dia sempat membalas email Susan. Apakah ia bunuh diri setelah itu? atau Ia masih tidak bisa menghadapi Susan atas apa yang telah dilakukan kepadanya?. Tapi, bagi saya sisi positif dari akhir cerita novel Nocturnal Animals yang bisa diambil adalah, bahwa sisi lemah Edward yang dulu telah ditinggalkan dan menjadi sosok yang lebih baik. Namun, bisa saja bermakna bahwa Edward telah berhasil move on dari peristiwa yang telah dialaminya.

Sengaja atau tidak, Edward mengirimkan novel tersebut untuk membuat Susan sadar akan kesalahannya. Selain itu, seakan ingin membuktikan diri sendiri akan karyanya, dimana sebelumnya Susan tidak pernah menyukai dan percaya akan karya tulisnya. Namun, sakit hati yang dialami Edward nyatanya telah berhasil membuatnya bangkit dan menghasilkan sebuah karya yang bagus. Dari hal tersebut, film ini seakan memberitahu tentang kekuatan mengekpresikan isi hati melalui seni. Sebaliknya, Susan yang digambarkan tidak bahagia akan hidupnya, mungkin karena dia tidak percaya diri dan tidak bisa mengekpresikan dirinya menjadi seorang seniman.

Sejauh ini, Nocturnal Animals bisa dikatakan film yang unik dan berbeda dari kebanyakan film yang telah ada, dimana sangat membutuhkan banyak apresiasi. Selain banyaknya metafora yang disajikan, mungkin bagi sebagian orang yang tidak terlalu mengerti akan akhir ceritanya merasa terganggu karena dibiarkan menggantung dan dingin. Namun, menariknya film ini mendorong penonton untuk berpikir dan memilih akhir ceritanya sendiri.

So, bagaimana sudut pandang mu terhadap film ini? Bagaimana rasanya jika ini terjadi kepada mu?


NB:
Film ini telah masuk ke beberapa nominasi di ajang penghargaan perfilman terbesar, dan berhasil mendapatkan beberapa penghargaan, seperti di 74th Golden Globe Awards 2017, Central Ohio Film Critics Association 2017, BloodGuts UK Horror Awards 2016, Hollywood Film Awards 2016, Venice Film Festival 2016, dll.
Share:

8 comments:

  1. aku belum pernah nonton Nocturnal Animals ..
    Tapi barusan sudah liat trailernya.
    dan kesimpulanya, Ini film gue banget !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah gerak cepat.
      Semoga ceritanya sesuai yang diharapkan ya, udah nilai filmnya 'gue banget' nih.

      Delete
  2. Pertama aku pengen komen templatenya cakep euy, design sendirikah ridha?
    Sejujurnya aku penggemar film genre thriler sejati tauk ridh, cuma selama ini aku lebih banyak berkiblat ke thriler korea punya, namun menarik juga nih nocturnal animals, jika aku jadi ammy adams terus dihadirkan kembali sosok lama dengan cara dadakan ini, pastilah penuh tanda tanya besar palagi dengan pola pola sok kasih novel segala terus ngajak ketemuan, rada spooky sih..,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah makasih banyak hehe, saya suka yang simple sih. Btw saya cuma edit template design, jadi ada orang lain yang designnya.
      Eh, agak kaku dipanggil ridha, just riri is enough 😊✌

      Rasanya awkward sekaligus spooky sih iya tiba-tiba dateng lagi kalo bawa niat tertentu 👻 *kecuali niatnya langsung dipinang dengan bismillah eh..

      Delete
  3. Menontonnya membutuhkan waktu 2 kali, yaaash...siapin otak buat mencerna metafora2 yang akan dihdirkan berarti ketika aku mau menontonnya
    Tenaaang, aku mah sahabatan ama spoiler, justru dengan baca ringkasannya kita jadi bisa tau apakah filmnya segarang atau semenarik apa lalu nanti tinggal membandingkannya aja ama yang direview

    Thriler emang identik dengan motif balas dendam sih,
    Biasanya pemicunya karena penghilangan nyawa sosok yang dicintai aka keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kamu konsentrasi dan seksama nontonnya sih, sekali juga cukup.
      Dan bisa langsung ngerti sama metafora yang ada.

      Delete
  4. Anjir baru aja mau nebak kalo ini bakal banyak dapet penghargaan. Gila sih alurnya berlapis-lapis gitu tapi keren dan tetep rapih. Udah gilaaa. Anyway, tadinya liat judul gue langsung keingetan channel YouTube How It Should Have Ended yang main ngerubah ending film sembarangan. \:p/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyalah pasti, keren sih yang buatnya bisa kepikiran kesana padahal profesinya fashion designer. Cobain nonton dulu deh bang, gimana pendapatnya.

      Nah btw saya malah yang gatau tentang channel YouTube itu. Tapi pas lihat belum dapet sih 'how it should have ended'-nya, cuma emang lucu sih genre-nya jadi dibuat komedi. Review jangan yaa buat next time? hehe

      Delete

Hai! Terima kasih sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca. Ayo berkomentar juga, jangan jadi silent readers ya! Ga punya akun untuk komentar? Pilih/pakai anonymous aja! Komentar pembaca dapat sangat membantu saya menjadi lebih baik.